Jepang Gelontorkan Rp37.500 Triliun untuk Semikonduktor dan AI: Strategi Ekonomi Baru di Bawah Takaichi
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang menargetkan investasi publik-swasta senilai 370 triliun yen hingga 2040, dengan alokasi terbesar pada semikonduktor sebesar 68 triliun yen.
- Strategi ini mencakup 17 sektor, termasuk AI, kuantum, energi, dan konten, sebagai upaya mendorong pertumbuhan dan ketahanan ekonomi nasional.
- Kekhawatiran muncul terkait fiskal Jepang yang sudah terburuk di negara maju, namun pemerintah optimistis pertumbuhan akan menurunkan rasio utang terhadap PDB.

Pemerintah Jepang secara resmi meluncurkan target investasi publik dan swasta sebesar 370 triliun yen (sekitar Rp37.500 triliun) hingga tahun fiskal 2040, dengan fokus utama pada industri semikonduktor sebagai pilar strategi pertumbuhan dan keamanan nasional. Langkah ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam rapat gabungan dewan strategi pertumbuhan dan kebijakan fiskal, Rabu (24/6).
Rencana jangka panjang yang mencakup 17 sektor—dari kecerdasan buatan (AI), teknologi kuantum, energi, hingga hiburan—ini dirancang untuk memberikan panduan bagi perusahaan swasta dalam merencanakan investasi. Dari total dana tersebut, 68 triliun yen dialokasikan khusus untuk semikonduktor yang dinilai krusial bagi keamanan ekonomi Jepang. Sektor AI fisik (robotika otonom) mendapat jatah 10,5 triliun yen, sementara teknologi kendaraan otonom sebesar 8,2 triliun yen.
Perdana Menteri Takaichi menegaskan komitmennya untuk memutus siklus penghematan berlebihan yang selama ini menghambat investasi masa depan. "Kami akan mendukung penuh upaya merebut pasar baru," ujarnya dalam pertemuan tersebut. Pemerintah berencana menciptakan kategori anggaran khusus tanpa batas atas untuk investasi ini mulai tahun fiskal 2027, sebuah langkah yang memicu kekhawatiran akan membengkaknya defisit fiskal Jepang yang sudah menjadi yang terburuk di antara negara-negara maju.
Dalam sektor konten, pemerintah mengalokasikan sekitar 30 triliun yen, dengan 24,5 triliun yen untuk industri gim hingga 2033, serta 1,3–3,3 triliun yen untuk anime, manga, musik, dan film. Sektor biofarmasi dan pengobatan regeneratif mendapat 20,8 triliun yen, sementara fusi nuklir sebesar 3 triliun yen. Pemerintah mengklaim angka-angka ini didasarkan pada konsultasi dengan akademisi, lembaga riset, dan pelaku industri.
Bagi Indonesia, strategi Jepang ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sebagai mitra dagang utama, Indonesia bisa memanfaatkan lonjakan investasi Jepang di sektor semikonduktor dan AI untuk memperkuat rantai pasok regional. Namun, persaingan global untuk menarik investasi semikonduktor kian ketat, dan Indonesia perlu menyiapkan insentif serta infrastruktur agar tidak tertinggal. Di sisi lain, fokus Jepang pada konten digital—seperti anime dan gim—bisa menjadi peluang bagi industri kreatif Indonesia untuk menjalin kerja sama produksi dan distribusi.
Kendati ambisius, rencana ini belum merinci besaran suntikan dana pemerintah secara pasti. Takaichi berjanji belanja fiskal yang "bertanggung jawab dan proaktif", namun para analis mengingatkan bahwa rasio utang Jepang terhadap PDB yang sudah sangat tinggi bisa menjadi batu sandungan. Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi akan menurunkan rasio utang secara bertahap, tetapi skenario gagal juga dipertimbangkan—yakni jika investasi tidak membuahkan hasil, pertumbuhan melambat, dan kondisi fiskal justru memburuk. Pertanyaan besarnya: apakah strategi ini akan menjadi lompatan besar bagi ekonomi Jepang atau justru memperdalam jurang fiskal?



