Tesla Kembali Jadi Sorotan: Kecelakaan Fatal di Texas Picu Investigasi dan Tuntutan Hukum
Baca dalam 60 detik
- NTSB dan NHTSA menyelidiki kecelakaan Tesla Model 3 yang menewaskan seorang wanita berusia 76 tahun di Texas.
- Keluarga korban menggugat Tesla dengan tuduhan kelalaian berat pada sistem Autopilot dan Full Self-Driving.
- Kasus ini menambah daftar panjang investigasi regulator AS terhadap fitur otonom Tesla yang telah menelan puluhan korban jiwa.

Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) memastikan akan menyelidiki kecelakaan mobil Tesla Model 3 yang menabrak rumah dengan kecepatan tinggi di Katy, Texas, pekan lalu. Insiden yang menewaskan seorang penghuni rumah berusia 76 tahun itu kembali memicu perdebatan sengit tentang keandalan sistem bantuan pengemudi buatan Elon Musk.
Kecelakaan pada 19 Juni itu melibatkan seorang pengemudi bernama Michael Butler yang, menurut laporan kepolisian setempat, mengaku mengaktifkan fitur Autopilot sebelum mobil menerobos dinding depan rumah Martha Avila. Korban terjepit dan meninggal dunia di rumah sakit, sementara menantu korban, Justin Barbour, turut mengalami luka-luka.
Keluarga Avila melalui pengacara mereka telah mengajukan gugatan ke pengadilan negara bagian Harris County, Texas, pada Selasa (24/6). Gugatan tersebut menuntut ganti rugi lebih dari 1 juta dolar AS, ditambah ganti rugi punitif atas dugaan kelalaian berat Tesla. Dalam dokumen gugatan, Tesla dituduh gagal memperingatkan bahwa sistem Autopilot dan Full Self-Driving (FSD) yang mereka pasarkan memiliki cacat bawaan.
Menurut pernyataan dari Departemen Kepolisian Harris County, pengemudi mengakui menggunakan sistem bantuan pengemudi saat kecelakaan terjadi. Namun, Elon Musk melalui unggahan di platform X pada Senin malam membantah keterlibatan FSD. "FSD melaju perlahan di jalan perumahan, dan ini adalah kecelakaan kecepatan tinggi!" tulisnya. Sementara itu, Ashok Elluswamy, Wakil Presiden AI Software Tesla, menambahkan bahwa pengemudi secara manual mengesampingkan sistem otonom dengan menekan pedal akselerasi hingga 100 persen.
Kasus ini menjadi babak baru dalam rangkaian panjang masalah hukum dan regulasi yang dihadapi Tesla. Pada 2023, Tesla menarik kembali sekitar 2 juta kendaraanโhampir seluruh mobil listriknya di jalanan ASโuntuk memastikan pengemudi tetap waspada saat menggunakan Autopilot. Meski demikian, Tesla terus menegaskan bahwa baik Autopilot maupun FSD membutuhkan pengemudi yang "sepenuhnya waspada" dengan tangan di kemudi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat penting di tengah maraknya adopsi kendaraan listrik dan teknologi otonom. Regulator di Tanah Air, seperti Kementerian Perhubungan, perlu mencermati hasil investigasi NTSB dan NHTSA sebagai bahan evaluasi standar keselamatan. Meskipun fitur otonom tingkat tinggi belum lazim di Indonesia, kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa klaim pemasaran sering kali tidak sejalan dengan realitas teknis di lapangan.
Pertanyaan yang tersisa: akankah tekanan publik dan regulator memaksa Tesla untuk merevisi secara fundamental cara mereka memasarkan teknologi otonom? Atau akankah argumen "kesalahan pengemudi" terus menjadi tameng hukum bagi perusahaan?



