Cerebras Anjlok 14% Setelah Proyeksi Margin Laba Setahun Penuh Patahkan Ekspektasi
Baca dalam 60 detik
- Saham Cerebras ambles 14% pada debut laporan keuangan pasca-IPO, setelah perusahaan memperingatkan margin laba kotor tahun 2026 hanya 38-41%, jauh di bawah capaian kuartal I.
- Proyeksi tersebut masih di atas estimasi analis, namun kalah jauh dari rival seperti Nvidia (mid-70%) dan AMD (mid-50%), memicu aksi jual besar-besaran.
- Meski tekanan jangka pendek terlihat, kontrak jumbo dengan OpenAI senilai US$20 miliar dan kerja sama dengan AWS diyakini menjadi katalis pertumbuhan jangka panjang.

Saham Cerebras Systems merosot tajam sekitar 14% pada perdagangan Rabu (24/6) setelah perusahaan perancang chip itu mengeluarkan proyeksi margin laba kotor tahunan yang jauh di bawah capaian kuartal pertama, dalam laporan keuangan perdananya pasca-pencatatan saham di bursa Nasdaq. Kejatuhan ini menghapus lebih dari US$6 miliar nilai pasar perusahaan yang baru sebulan melantai di bursa.
Dalam prospektus yang dirilis, Cerebras memperkirakan margin laba kotor disesuaikan untuk tahun fiskal 2026 berada di kisaran 38% hingga 41%, sementara pada kuartal I tahun ini perusahaan mencatatkan margin 47%. Angka tersebut memang masih di atas konsensus analis yang memperkirakan 29,58%, tetapi sangat kontras dengan kinerja pesaing utama seperti Nvidia yang konsisten di kisaran pertengahan 70% dan Advanced Micro Devices (AMD) di kisaran pertengahan 50%.
CEO Cerebras Andrew Feldman dalam konferensi pers usai rilis laporan mengungkapkan bahwa perusahaannya telah mengamankan kesepakatan multi-tahun senilai US$20 miliar dengan OpenAI. GPT 5.4 buatan OpenAI saat ini sudah berjalan di atas chip Cerebras, dan perusahaan rintisan di balik ChatGPT itu berencana menggunakan 750 megawatt semikonduktor Cerebras sebagai bagian dari perjanjian tersebut. Feldman juga menyebut Amazon Web Services (AWS) akan segera mengadopsi chip buatan Cerebras di pusat datanya, dengan aliran pendapatan diperkirakan mulai mengalir dalam setahun ke depan.
Analis dari TD Cowen yang dipimpin Joshua Buchalter menilai bahwa keterlibatan dengan OpenAI dan AWS merupakan faktor yang lebih penting bagi cerita jangka panjang. "Margin laba kotor akan tertekan seiring Cerebras agresif meningkatkan produksi, namun kami tetap optimistis terhadap prospek Cerebras saat mereka berskala untuk mendukung infleksi pendapatan yang berarti," tulis mereka dalam catatan riset. Namun, para analis juga memperingatkan bahwa margin bisa tertekan karena perusahaan memproduksi chip berukuran relatif lebih besar dan menyewa kembali sistemnya sendiri dari klien yang sudah ada untuk memenuhi permintaan jangka pendek sambil membangun kapasitas pusat data tambahan.
Sejak debutnya di pasar, saham Cerebras telah kehilangan lebih dari 37% nilainya di tengah meredanya euforia saham-saham kecerdasan buatan (AI) dan kekhawatiran investor atas pengeluaran besar-besaran untuk membangun infrastruktur teknologi baru. Meski demikian, sejumlah analis masih melihat potensi kenaikan. Wedbush menaikkan target harga saham dari US$270 menjadi US$280, sementara Morgan Stanley memproyeksikan harga saham akan mencapai US$273 dalam 12 bulan ke depan, naik dari sebelumnya US$250. Joseph Moore dari Morgan Stanley mengatakan, "Meskipun kebutuhan untuk membangun kapasitas cloud memiliki beberapa risiko, kami melihat bukti dalam angka-angka ini bahwa perusahaan telah konservatif dalam memproyeksikan ramp. Dengan permintaan melebihi pasokan dan tidak ada hambatan pasokan yang signifikan, kami melihat ruang untuk kenaikan yang material."
Bagi pasar Indonesia, pergerakan saham Cerebras menjadi pengingat bahwa sektor semikonduktor global tetap volatil meskipun prospek jangka panjang AI masih cerah. Investor domestik yang terpapar reksa dana atau ETF teknologi perlu mencermati bahwa margin keuntungan perusahaan chip baru bisa sangat fluktuatif di fase awal ekspansi. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Cerebras mampu mempertahankan momentum pertumbuhan pendapatan tanpa mengorbankan profitabilitas secara berlebihan, terutama saat harus bersaing dengan raksasa seperti Nvidia dan AMD yang memiliki keunggulan skala dan ekosistem yang lebih matang.



