IOC Siapkan Dana Rp2 Triliun untuk Atlet Olimpiade: Hibah $10.000 per Partisipasi
Baca dalam 60 detik
- Komite Olimpiade Internasional mengalokasikan dana $140 juta per Olimpiade untuk hibah atlet sebesar $10.000 per partisipasi.
- Hibah ini bersifat non-prize money dan dapat digunakan untuk mendukung karier olahraga atau transisi pasca-pensiun.
- Atlet yang berlaga di Olimpiade Musim Dingin 2026 menjadi gelombang pertama yang bisa mengajukan permohonan mulai akhir tahun ini.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengumumkan program hibah senilai $10.000 (sekitar Rp162 juta) bagi setiap atlet yang berlaga di Olimpiade, sebuah langkah terobosan untuk memberikan dukungan finansial langsung kepada para peserta pesta olahraga terbesar dunia.
Dana sebesar $140 juta (sekitar Rp2,27 triliun) akan disisihkan untuk setiap edisi Olimpiade, dengan sekitar 14.000 atlet per gelaran diprediksi memenuhi syarat. Hibah yang dinamakan 'fit for the future Olympian grant' ini pertama kali dapat diakses oleh atlet yang bertanding di Olimpiade Musim Dingin 2026, dan proses aplikasi direncanakan dibuka pada akhir tahun ini dengan pencairan pertama pada 2027.
Menurut IOC, hibah tersebut bukanlah hadiah uang (prize money) melainkan bentuk pengakuan atas perjalanan dan pengorbanan yang dilakukan atlet untuk mencapai panggung Olimpiade. Pau Gasol, peraih tiga medali basket asal Spanyol yang kini menjabat ketua komisi atlet IOC, menegaskan bahwa inisiatif ini bertujuan menghormati komitmen setiap Olympian, baik yang telah berlaga maupun generasi mendatang.
Hibah ini tidak berlaku bagi atlet yang terbukti melanggar aturan anti-doping, kode etik IOC, atau Piagam Olimpiade. Selain itu, hanya atlet dengan akreditasi Aa yang berhak, dan tidak mencakup peserta Olimpiade Remaja (Youth Olympic Games).
Langkah IOC ini muncul setelah World Athletics menjadi federasi internasional pertama yang memberikan prize money Olimpiade pada Paris 2024, dengan emas senilai $50.000. Meski Presiden IOC Kirsty Coventry menentang pemberian prize money, ia mengakui perlunya cara baru untuk mendukung atlet secara langsung. "Topik ini sudah dibahas bertahun-tahun, dan saya bangga akhirnya bisa merealisasikannya," ujar Coventry.
Bagi Indonesia, program ini membuka peluang bagi atlet-atlet Tanah Air yang berlaga di Olimpiade untuk mendapatkan tambahan dana yang dapat digunakan untuk persiapan atau transisi karier. Dengan jumlah atlet Indonesia yang relatif kecil, hibah ini bisa menjadi suntikan berarti, terutama bagi cabang olahraga yang minim sponsor. Namun, efektivitasnya akan bergantung pada mekanisme distribusi melalui NOC masing-masing, termasuk Komite Olimpiade Indonesia (KOI).
Ke depan, IOC berencana memperluas jangkauan hibah ini seiring dengan evaluasi program. Pertanyaan yang muncul: apakah hibah ini cukup untuk mendorong lebih banyak atlet dari negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk berprestasi di Olimpiade? Atau justru menimbulkan ketimpangan baru karena atlet dari negara kaya tetap memiliki akses lebih besar ke sumber daya lain?



