Dua Sisi Perang Korea: Mantan Tawanan dari Utara dan Selatan yang Masih Hidup dalam Luka
Baca dalam 60 detik
- Lee Seon-woo, mantan prajurit Korea Selatan yang ditawan selama 53 tahun di Korea Utara, baru bisa pulang pada 2006 dan kini menjadi satu dari hanya lima mantan tawanan yang masih hidup.
- Ahn Hak-sop, yang berjuang untuk Korea Utara, dipenjara 42 tahun di Selatan setelah perang dan memilih tetap tinggal meski ada kesempatan repatriasi.
- Kedua tokoh ini menjadi simbol bahwa Perang Korea belum benar-benar berakhir secara emosional dan politik, 76 tahun setelah konflik pecah.

Enam puluh tiga tahun setelah namanya dipanggil di Bandara Incheon, Lee Seon-woo masih merasakan perih yang sama: pulang ke Korea Selatan bukan akhir dari penderitaan, melainkan awal dari kesepian yang tak terobati. Pria berusia 95 tahun itu adalah salah satu dari segelintir mantan tawanan perang Korea yang berhasil melarikan diri dari Korea Utara setelah lebih dari setengah abad terisolasi.
Lee ditangkap oleh pasukan China pada 14 Juli 1953, hanya 13 hari sebelum gencatan senjata ditandatangani. Saat itu usianya 21 tahun dan bertugas sebagai prajurit Korea Selatan di Provinsi Gangwon. Ia kehilangan tiga jarinya dalam pertempuran. Alih-alih dipulangkan, ia dikirim ke timur laut Korea Utara dan dipaksa bekerja di tambang batu bara serta kamp kerja paksa selama puluhan tahun.
Di pengasingan, Lee menikah dan memiliki tiga anak perempuan. Ia mengira tidak akan pernah kembali ke tanah kelahirannya. Namun pada 2006, ia berhasil melarikan diri melalui China dan tiba di Korea Selatan. “Saya mendengar orang-orang memanggil nama saya: ‘Lee Seon-woo’. Setelah 53 tahun, saya akhirnya merasa negara saya mengakui perjuangan saya dalam Perang Korea,” kenangnya dengan suara bergetar.
Kepulangannya, bagaimanapun, datang terlambat. Kedua orang tuanya dan dua dari tiga saudaranya telah meninggal dunia. Anak-anak perempuannya, yang kini berusia 60–70 tahun, memilih tetap di Korea Utara karena takut dihukum jika ketahuan melarikan diri. “Saya tidak tenang. Masih sakit,” ujar Lee kepada CNA.
Tidak jauh dari kediaman Lee, hiduplah Ahn Hak-sop, seorang pria berusia 90-an yang nasibnya justru berkebalikan. Lahir di Ganghwa dekat perbatasan antar-Korea, Ahn muda pergi ke utara untuk belajar di Kota Kaesong dan memeluk ideologi komunis. Ia ditangkap oleh pasukan Korea Selatan selama perang dan menghabiskan 42 tahun di penjara karena menolak meninggalkan keyakinannya. Setelah dibebaskan pada 1995, ia memilih tetap tinggal di Selatan meskipun ada tawaran repatriasi ke Utara pasca-KTT antar-Korea tahun 2000.
“Saya tidak bisa pergi selama pasukan Amerika masih di sini. Saya harus tetap di sini dan terus bersuara,” kata Ahn. Namun, seiring waktu, keyakinannya melunak. Kini keinginan terakhirnya adalah kembali ke Korea Utara dan mati di antara kawan-kawannya. Permohonan untuk menjalin kontak melalui perantara di China dan Rusia tidak pernah direspons. Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyatakan pemerintahannya tidak akan menghalangi langkah tersebut, tetapi hubungan yang membeku membuat Seoul tidak bisa berbuat banyak.
Bagi Indonesia, kisah Lee dan Ahn mengingatkan bahwa konflik ideologis yang berlarut-larut meninggalkan luka lintas generasi. Meski secara geografis jauh, dinamika Semenanjung Korea kerap menjadi cermin bagi negara-negara yang masih bergulat dengan masa lalu perang dan perpecahan. Pertanyaan yang tersisa: akankah kedua Korea mampu mengakhiri perang dingin yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade, atau justru semakin terperangkap dalam nostalgia permusuhan?



