Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI: Grand Hyatt hingga Kempinski Terintegrasi MRT
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI menghubungkan empat hotel mewah di Bundaran HI melalui terowongan bawah tanah yang terintegrasi dengan stasiun MRT.
- Proyek ini juga menyediakan ruang bagi UMKM, meniru konsep kota global seperti Tokyo dan Singapura.
- Kebijakan tarif Rp1 untuk transportasi umum diperluas ke seluruh pemegang KTP Indonesia setelah antusiasme warga penyangga.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan bahwa kawasan hotel berbintang di sekitar Bundaran HI akan terhubung melalui jalur bawah tanah yang langsung terintegrasi dengan Moda Raya Terpadu (MRT). Proyek ini mencakup sambungan antara Grand Hyatt, Pullman, Mandarin Oriental, dan Hotel Indonesia Kempinski, sebuah langkah yang disebut Pramono sebagai solusi untuk mengurangi kemacetan di permukaan jalan sekaligus meningkatkan kenyamanan pejalan kaki.
Dalam sambutannya pada perayaan HUT ke-499 Jakarta di Bundaran HI, Sabtu (27/6), Pramono menjelaskan bahwa konektivitas bawah tanah ini memungkinkan pengunjung hotel dan masyarakat umum untuk berpindah dari satu gedung ke gedung lain tanpa harus menyeberang di atas jalan. “Termasuk di tempat ini, pasti saudara-saudara tidak membayangkan yang namanya Grand Hyatt dengan Pullman, dengan Mandarin, dengan Kempinski, sekarang di bawahnya sudah kita hubungkan. Nanti akan masuk ke MRT,” ujar Pramono di hadapan ribuan warga yang hadir.
Selain sebagai koridor pejalan kaki, ruang bawah tanah tersebut juga akan difungsikan sebagai pusat kegiatan ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pramono mencontohkan praktik serupa yang sudah berhasil di kota-kota besar dunia, seperti Tokyo dan Singapura, di mana ruang publik bawah tanah menjadi lokasi strategis bagi pedagang kecil. “Di dalam ini nanti juga akan ada UMKM yang banyak seperti di kota-kota besar dunia,” katanya.
Pramono juga menyoroti tantangan kemacetan Jakarta yang dipicu oleh mobilitas harian sekitar empat juta orang dari wilayah penyangga. Setiap hari, jumlah yang sama kembali ke daerah asal pada sore hari. Untuk mengatasi hal ini, Pemprov DKI telah meluncurkan layanan Transjabodetabek yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Depok. Rute yang sudah beroperasi antara lain Blok M-Bogor, Blok M-Soekarno Hatta, dan Blok M-Bekasi. “Kenapa? Itu supaya warga dari luar Jakarta, mereka bisa naik transportasi Transjabodetabek,” jelas Pramono.
Dalam kesempatan yang sama, Pramono mengungkapkan bahwa kebijakan tarif transportasi umum Rp1 yang semula hanya berlaku bagi pemegang KTP Jakarta diperluas ke seluruh pemegang KTP Indonesia. Perluasan ini dipicu oleh tingginya antusiasme warga dari Bekasi, Bogor, Tangerang, Cianjur, dan Depok yang meminta fasilitas serupa. “Problemnya adalah ketika ada kegiatan seperti ini, yang kita gratiskan kan kemarin penduduk Jakarta. Ternyata penduduk dari Bekasi, Bogor, Tangerang, Cianjur, Depok, mereka minta gratis juga. Makanya hari ini semua yang ber-KTP Republik Indonesia kami gratiskan,” tutur Pramono.
Ke depan, proyek integrasi bawah tanah di Bundaran HI diharapkan menjadi model bagi pengembangan kawasan serupa di titik-titik strategis Jakarta lainnya. Pertanyaannya, apakah langkah ini cukup untuk mendorong peralihan massal dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, atau justru akan menambah beban di titik-titik tertentu?



