Serangan Balik Iran-AS di Selat Hormuz: Gencatan Senjata Dua Pekan Kandas
Baca dalam 60 detik
- Sebuah kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terkena proyektil pada Sabtu (27/6), memicu kekhawatiran baru atas keamanan jalur energi global.
- Iran dan AS saling tuduh melanggar kesepakatan damai sementara yang baru diteken dua pekan lalu, dengan Teheran menyerang target milik AS dan Washington membalas.
- Bahrain mengecam serangan drone Iran di wilayahnya, sementara harga minyak dunia berpotensi kembali bergejolak jika eskalasi berlanjut.

Sebuah kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terkena proyektil pada Sabtu (27/6), menandai eskalasi paling serius sejak Iran dan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan damai sementara dua pekan lalu. Serangan ini terjadi hanya dua hari setelah insiden serupa menimpa kapal kargo pada Kamis, memicu saling serang antara kedua negara yang mengancam stabilitas jalur energi paling vital di dunia.
Menurut badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, kapal tanker yang terkena serangan mengalami kerusakan pada anjungannya, namun seluruh awak dilaporkan selamat. Joint Maritime Information Center, yang dikelola oleh koalisi angkatan laut yang melindungi pelayaran, telah menaikkan tingkat ancaman keamanan sebagai respons terhadap insiden terkini. Iran sendiri belum memberikan komentar langsung atas laporan serangan spesifik terhadap kapal, namun televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Garda Revolusi telah menembakkan "tembakan peringatan" ke arah kapal yang mencoba melintas melalui jalur yang tidak disetujui Teheran.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa serangan "defensif" yang dilancarkan pihaknya merupakan respons atas "serangan udara biadab" AS terhadap fasilitas pengawasan pesisir Iran, yang dinilai melanggar Piagam PBB. Sementara itu, Washington mengaku telah menghantam sasaran Iran pada malam sebelumnya. Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima AS, mengecam serangan drone Iran di wilayahnya sebagai pelanggaran kedaulatan dan ancaman terhadap keamanan, serta menyatakan hak untuk membela diri.
Eskalasi ini terjadi di tengah upaya diplomasi yang rumit. Iran menuduh AS gagal menegakkan gencatan senjata di Lebanon, di mana sekutu AS, Israel, menginvasi pada Maret untuk mengejar kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran. Kesepakatan gencatan senjata Israel-Lebanon yang diumumkan pada Jumat langsung ditolak oleh pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, yang menyebutnya sebagai "penyerahan diri" dan "batal demi hukum". Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang sedang dalam tur Teluk untuk meyakinkan sekutu regional, mengeluarkan pernyataan bersama dengan Dewan Kerja Sama Teluk yang menyerukan navigasi "bebas, tanpa syarat, dan tanpa hambatan" di Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, eskalasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gangguan di jalur ini berpotensi mendorong kenaikan harga BBM di dalam negeri dan memperburuk tekanan inflasi. Selain itu, pengiriman pupuk melalui selat tersebut juga mulai pulih, yang penting bagi ketahanan pangan Indonesia. Jika konflik berlanjut, risiko terhadap pemulihan ekonomi global dan domestik akan meningkat.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang menjadi negosiator utama konflik, menegaskan bahwa AS telah mematuhi kesepakatan gencatan senjata dan menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab jika konflik kembali pecah. "Kekerasan akan dibalas dengan kekerasan," ujarnya di media sosial X. Namun, pola eskalasi akhir pekan yang selama ini diikuti dengan sikap lebih lunak pada Senin masih menjadi harapan tipis bagi pasar. Pertanyaannya, akankah kali ini berbeda?



