Polisi Multitalenta di Pulau Ende: Kapolsek Merangkap Imam hingga Guru Ngaji
Baca dalam 60 detik
- Ipda Heru Sutaban, Kapolsek Pulau Ende, tak hanya menjalankan tugas kepolisian tetapi juga aktif sebagai imam salat, khatib, dan pengajar mengaji bagi anak-anak setempat.
- Pendekatan humanisnya—mulai dari mengayuh sepeda tua hingga melaut bersama nelayan—berhasil membangun kepercayaan dan mempererat hubungan Polri dengan masyarakat di wilayah terpencil.
- Kisah ini menjadi bukti bahwa pengabdian tulus seorang anggota Polri mampu mengubah citra institusi di tengah kritik publik, sekaligus menginspirasi polisi lain untuk hadir dengan hati.

Di tengah sorotan tajam terhadap institusi Polri, seorang perwira di ujung timur Indonesia justru menunjukkan wajah lain kepolisian: Ipda Heru Sutaban, Kapolsek Pulau Ende, tak sekadar menegakkan hukum, tetapi juga merangkap sebagai imam, khatib, guru ngaji, dan sahabat bagi warganya. Kisahnya membuktikan bahwa kepercayaan publik tidak lahir dari slogan, melainkan dari kehadiran yang tulus di tengah kesederhanaan.
Bertugas di wilayah kepulauan yang hanya bisa dijangkau dengan kapal kayu, Ipda Heru memilih cara berbeda. Setiap hari ia mengayuh sepeda tuanya menyusuri jalan rabat, menumpang perahu nelayan, dan bahkan ikut melaut bersama warga. Baginya, menjadi polisi bukan soal seragam dan kewibawaan, melainkan tentang merangkul masyarakat dari dalam. Pendekatan ini membuatnya diterima bukan sebagai aparat yang ditakuti, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar Pulau Ende.
Peran gandanya tak berhenti di situ. Ipda Heru juga menjadi imam dan khatib Salat Jumat di masjid setempat, serta mengajar mengaji anak-anak di Taman Pendidikan Alquran (TPA). Di sela-sela patroli, ia menyempatkan diri memberikan edukasi keselamatan berlalu lintas dengan cara humanis, tanpa menggurui. Kegiatan sederhana ini, menurut pengakuan warga, telah mengubah pandangan mereka terhadap polisi—dari yang awalnya skeptis menjadi percaya dan dekat.
Kepala Bidang Humas Polda Nusa Tenggara Timur, Kombes Pol. Henry Novika Chandra, menyampaikan apresiasi langsung dari Kapolda NTT Irjen Pol. Rudi Darmoko. "Bapak Kapolda menilai Ipda Heru adalah contoh nyata implementasi Polri Presisi. Ia tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga menjadi pelayan, pelindung, dan pengayom yang menyatu dengan kehidupan masyarakat," ujarnya. Henry menambahkan bahwa keteladanan seperti ini terus didorong di lingkungan Polda NTT.
Bagi masyarakat Indonesia, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik pemberitaan negatif tentang oknum polisi, masih banyak anggota yang bekerja tanpa pamrih di daerah terpencil. Di tengah kritik yang deras, figur seperti Ipda Heru menunjukkan bahwa polisi bisa menjadi agen perubahan sosial—bukan hanya dari sisi keamanan, tetapi juga dari sisi keagamaan dan pendidikan. Ini menjadi modal penting bagi Polri untuk membangun kembali kepercayaan publik yang sempat terkikis.
Ke depan, tantangan bagi institusi Polri adalah bagaimana mereplikasi model pengabdian semacam ini ke seluruh pelosok negeri, terutama di wilayah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal). Apakah Polri mampu menjadikan kisah Ipda Heru sebagai cetak biru transformasi budaya kerja, atau hanya akan menjadi cerita inspiratif yang berlalu begitu saja?



