CEO Kadokawa Selamat dari Tekanan Aktivis, Tapi Dukungan Pemegang Saham Merosot Tajam
Baca dalam 60 detik
- CEO Kadokawa Takeshi Natsuno berhasil mempertahankan kursi dewan meskipun mendapat tekanan dari aktivis Oasis Management yang menginginkannya mundur.
- Dukungan terhadap Natsuno turun drastis dari 90% tahun lalu, mencerminkan ketidakpuasan atas profitabilitas yang menurun meskipun 'Elden Ring' sukses besar.
- Kasus ini menjadi sinyal bagi perusahaan Jepang, termasuk afiliasi di Indonesia, bahwa tekanan investor untuk tata kelola dan profitabilitas semakin kuat.

CEO Kadokawa, Takeshi Natsuno, berhasil mempertahankan posisinya sebagai anggota dewan dalam rapat umum pemegang saham tahunan, meskipun mendapat tentangan keras dari investor aktivis Oasis Management yang menginginkannya lengser. Namun, tingkat dukungan yang tidak diungkapkan secara rinci mengindikasikan penurunan kepercayaan yang signifikan.
Oasis Management, pemegang saham terbesar Kadokawa dengan kepemilikan 15,25%, menyatakan dalam pernyataan resmi bahwa hasil pemungutan suara yang akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang akan menunjukkan hilangnya kepercayaan pemegang saham terhadap Natsuno. Dana lindung nilai yang berbasis di Hong Kong itu juga mengancam akan memantau hasil dan mempertimbangkan langkah selanjutnya.
Meskipun waralaba gim video 'Elden Ring' sukses besar di pasaran, Natsuno menghadapi kritik karena profitabilitas perusahaan yang menurun selama masa kepemimpinannya sejak 2021. Pada Mei lalu, Oasis secara terbuka meminta pemegang saham untuk memecatnya, dan mendapat dukungan dari penasihat proxy ISS dan Glass Lewis. Jika hasil pemungutan suara menunjukkan penurunan dukungan yang tajam, tekanan terhadap Natsuno akan meningkat dan dapat mendorong perubahan yang diinginkan Oasis, seperti investasi lebih besar pada gim-gim andalan.
Dewan direksi Kadokawa sebelumnya mendukung Natsuno, dengan alasan bahwa pemecatannya akan mengganggu upaya reformasi perusahaan. Dalam pernyataannya, Kadokawa mengaku akan mengevaluasi struktur manajemen, kompensasi eksekutif, dan kemajuan rencana bisnis jangka menengah, serta interaksinya dengan pemegang saham. Langkah ini menunjukkan bahwa tekanan investor mulai membuahkan hasil, meskipun belum sepenuhnya.
Kasus Kadokawa mencerminkan tren yang lebih luas di Jepang, di mana otoritas pemerintah mendorong perusahaan untuk meningkatkan imbal hasil dan tata kelola perusahaan. Investor aktivis semakin vokal dan telah meraih beberapa kemenangan besar. Tahun lalu, kampanye Oasis berhasil memecat CEO Taiyo Holdings, Eiji Sato. Sementara itu, Elliott Investment Management juga menang dalam perselisihan dengan Toyota terkait pembelian anak perusahaan. Investor institusional domestik pun semakin ketat dalam menuntut manajemen perusahaan Jepang untuk memenuhi target profitabilitas seperti return on equity.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat banyak perusahaan Jepang beroperasi di Indonesia melalui anak perusahaan atau afiliasi. Tekanan serupa dari investor global dapat mendorong perusahaan-perusahaan tersebut untuk lebih transparan dan efisien. Di sisi lain, investor Indonesia yang memiliki saham di perusahaan Jepang juga dapat belajar dari taktik aktivis seperti Oasis untuk mendorong perubahan. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Natsuno akan mampu memulihkan kepercayaan pemegang saham dengan reformasi yang berarti, atau justru semakin terpojok.



