Zelenskyy Peringatkan Musim Dingin Terberat: Infrastruktur Listrik Ukraina Hancur, Serangan Rusia Tewaskan Empat Orang di Kyiv
Baca dalam 60 detik
- Serangan rudal Rusia menewaskan empat orang, termasuk anak-anak, di wilayah Kyiv, menyisakan kekhawatiran besar atas ketahanan energi Ukraina menghadapi musim dingin.
- Zelenskyy menyatakan hampir tidak ada pembangkit listrik tenaga panas yang berfungsi, mendesak sekutu Barat untuk mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara dan memperketat sanksi terhadap Moskow.
- Kunjungan bersejarah Zelenskyy ke Beograd menyoroti posisi Serbia yang masih belum menjatuhkan sanksi ke Rusia, sementara Kyiv terus mencari dukungan diplomatik dan militer di tengah perang yang berkepanjangan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa negaranya akan menghadapi musim dingin terberat sejak invasi Rusia dimulai, menyusul serangan rudal semalam yang menewaskan empat orang di wilayah Kyiv, termasuk seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Dalam kunjungan pertamanya ke Beograd, Zelenskyy menegaskan bahwa infrastruktur energi Ukraina, khususnya pembangkit listrik tenaga panas, hampir hancur total, sehingga kemampuan negara untuk bertahan di tengah gempuran Rusia semakin terancam.
Serangan Rusia yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir tidak hanya menyasar permukiman sipil, tetapi juga secara sistematis menghancurkan jaringan listrik Ukraina. Menurut Zelenskyy, dalam 24 jam terakhir, gabungan serangan rudal dan artileri di garis depan telah menewaskan 13 orang. "Rudal-rudal Rusia memang diarahkan untuk membuat hidup warga Ukraina tidak tertahankan," ujarnya di hadapan wartawan, sambil menyoroti bahwa Moskow menjadikan infrastruktur energi sebagai target utama. Kondisi ini memaksa Ukraina untuk mengandalkan pembangkit nuklir yang juga tidak sepenuhnya aman dari ancaman serangan.
Kunjungan Zelenskyy ke Serbia, yang merupakan yang pertama sejak ia menjabat pada 2019, menjadi momen penting dalam upaya diplomasi Ukraina. Serbia, yang selama ini menjalin hubungan dekat dengan Rusia, masih menjadi salah satu dari sedikit negara Eropa yang belum menjatuhkan sanksi terhadap Moskow. Meski demikian, Presiden Aleksandar Vucic menegaskan bahwa negaranya tetap mendukung integritas teritorial Ukraina dan telah memberikan bantuan non-militer. Namun, Vucic menolak membahas kerja sama militer, dengan menyatakan bahwa hal itu baru akan dipertimbangkan setelah perang berakhir.
Di tengah meningkatnya serangan jarak jauh, Ukraina terus mendesak sekutu Barat untuk mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara, terutama Patriot buatan AS. Zelenskyy juga kembali menyerukan sanksi yang lebih ketat untuk memutus pasokan komponen rudal ke Rusia, yang menurutnya berasal dari berbagai negara, termasuk mitra dekat Ukraina. "Komponen-komponen ini tiba, dan kemudian rudal menghantam warga sipil, membunuh anak-anak," tegasnya. Seruan ini muncul setelah Rusia meluncurkan rentetan rudal balistik yang sulit dicegat, sementara Ukraina membalas dengan serangan drone dalam jumlah besar ke wilayah Rusia.
Bagi Indonesia, konflik ini memberikan pelajaran penting tentang kerentanan infrastruktur energi di tengah konflik bersenjata. Ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga panas yang mudah menjadi sasaran strategis menunjukkan perlunya diversifikasi sumber energi dan penguatan sistem pertahanan sipil. Selain itu, sikap Serbia yang mencoba menjaga keseimbangan antara Barat dan Rusia menjadi contoh dilema diplomatik yang dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia, dalam menyikapi perang yang berkepanjangan ini. Bagaimana negara-negara berkembang dapat mempertahankan kepentingan nasional tanpa terjebak dalam polarisasi global?
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah Ukraina mampu bertahan menghadapi musim dingin dengan infrastruktur yang hancur, dan apakah tekanan internasional akan cukup untuk menghentikan agresi Rusia. Kunjungan Zelenskyy ke Beograd, yang diakhiri dengan pernyataan tegas tentang perlunya dukungan global, menunjukkan bahwa Kyiv tidak akan berhenti mencari sekutu baru. Namun, tanpa langkah konkret dari Barat, baik dalam bentuk sanksi maupun bantuan militer, Ukraina mungkin harus bersiap menghadapi musim dingin yang paling kelam dalam sejarah modernnya.



