Putra Mark Ruffalo Banting Setir dari Desainer ke Aktor: 'COVID Depression' Ubah Arah Hidup
Baca dalam 60 detik
- Keen Ruffalo, 25, putra aktor Mark Ruffalo, mengungkapkan bahwa depresi akibat pandemi COVID-19 membuatnya meninggalkan studi desain mode dan beralih ke dunia akting.
- Keputusan drastis ini dipicu oleh kejenuhan selama karantina serta inspirasi dari kebahagiaan sang ayah saat berakting, yang menurut pengamat mencerminkan tren pergeseran karier generasi muda pasca-pandemi.
- Di sisi lain, Mark Ruffalo juga menyoroti kekecewaannya terhadap politik AS yang dikuasai korporasi, seraya memuji kemenangan Wali Kota New York Zohran Mamdani sebagai harapan baru bagi kelas pekerja.

Keen Ruffalo, putra bungsu aktor Hollywood Mark Ruffalo, mengaku bahwa masa-masa kelam selama pandemi COVID-19 menjadi titik balik yang mengubah total arah hidupnya. Pria berusia 25 tahun itu, yang awalnya menempuh pendidikan desain mode, memutuskan keluar dari bangku kuliah dan menekuni dunia akting setelah mengalami apa yang ia sebut sebagai "depresi COVID".
Dalam wawancara dengan The Today Show NBC pada Jumat lalu, Keen menuturkan bahwa pandemi yang memaksanya pulang ke rumah di tahun pertama kuliah menjadi pemicu kebingungan dan kejenuhan. "Semua orang benar-benar lelah karena terus berada di dalam rumah," ujarnya. Ia mengaku merasa tersesat dan membutuhkan perubahan, hingga akhirnya melihat bagaimana akting membuat ayahnya bahagia. "Saya pikir, saya perlu mencoba sesuatu yang baru," tambahnya.
Keputusan Keen untuk meninggalkan bangku kuliah dan mengejar karier akting jelas bukan tanpa pertimbangan. Sang ayah, yang dikenal luas lewat perannya sebagai Hulk di Marvel Cinematic Universe, disebutnya sangat mendukung, meski sempat bertanya, "Kamu yakin ingin melakukan ini?" Dukungan tersebut menjadi modal penting bagi Keen yang kini mulai merintis karier aktingnya, termasuk terlibat dalam produksi berjudul Sterling Point.
Fenomena pergeseran karier di kalangan generasi muda akibat pandemi sebenarnya bukan hal baru. Berbagai survei menunjukkan bahwa banyak pekerja muda di dunia, termasuk Indonesia, mengalami kejenuhan dan memilih berhenti dari pekerjaan atau pendidikan yang sedang dijalani untuk mencari makna baru. Pandemi COVID-19 telah memaksa banyak orang untuk merenungkan kembali prioritas hidup, dan kasus Keen Ruffalo menjadi contoh nyata bagaimana krisis kesehatan global dapat memicu transformasi personal yang radikal.
Di sisi lain, Mark Ruffalo, yang juga dikenal vokal dalam isu-isu politik, kembali melontarkan kritik tajam terhadap sistem politik Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan Us Weekly, ia menyebut kedua partai besar di AS telah "sepenuhnya dikuasai oleh korporasi" dan gagal melayani kepentingan rakyat. "Rakyat Amerika sedang menderita. Jika tidak, kita tidak akan berada di posisi ini sekarang," tegasnya. Mark juga memuji kemenangan Zohran Mamdani, Wali Kota New York yang baru dilantik, sebagai secercah harapan. Mamdani, yang berusia 34 tahun, tercatat sebagai politisi AS pertama yang dilantik dengan bersumpah di atas Al-Qur'an.
Pernyataan Mark Ruffalo tentang politik AS yang dikuasai korporasi juga relevan untuk dicermati di Indonesia. Meskipun konteksnya berbeda, isu tentang pengaruh kepentingan bisnis dalam kebijakan publik kerap menjadi sorotan di tanah air. Pengamat politik menilai bahwa semakin kuatnya peran korporasi dalam politik dapat menggerus kepercayaan publik terhadap demokrasi. Di Indonesia, misalnya, wacana tentang pendanaan politik dan keterlibatan pengusaha dalam partai politik masih menjadi perdebatan hangat.
Kisah Keen Ruffalo dan kritik politik sang ayah memberikan gambaran bahwa pandemi tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memicu perubahan besar dalam cara pandang dan pilihan hidup banyak orang. Pertanyaannya, apakah fenomena serupa akan terus berlanjut dan membentuk generasi baru yang lebih berani mengambil risiko? Atau justru menjadi pengingat bahwa krisis dapat menjadi momentum untuk transformasi diri dan sosial yang lebih luas?



