Konsumsi Domestik Jadi Bantalan Ekonomi RI di Tengah Guncangan Global
Baca dalam 60 detik
- Pertumbuhan ekonomi RI kuartal I-2026 mencapai 5,61%, ditopang konsumsi rumah tangga yang menyumbang 54,36% terhadap PDB.
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebagai langkah antisipatif menjaga stabilitas rupiah dan inflasi di tengah ketidakpastian global.
- Ketahanan konsumsi domestik dinilai menjadi daya tarik utama bagi investor asing di saat banyak negara lain masih berjuang memulihkan ekonomi.

Di tengah ketidakpastian global yang kian memanas, Indonesia tetap mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang solid pada kuartal pertama 2026. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa kekuatan utama ekonomi nasional bersumber dari konsumsi domestik yang tetap bergairah, meskipun tekanan eksternal terus mengintai.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,61% pada Januari–Maret 2026. Konsumsi rumah tangga, yang mencakup lebih dari separuh PDB, tumbuh 5,52% dan berkontribusi sebesar 54,36% terhadap total output ekonomi. Angka ini menjadi penyangga utama saat negara-negara lain masih bergulat dengan perlambatan.
“Kita beruntung memiliki ekonomi domestik yang relatif solid dibandingkan negara lain. Pada saat negara lain masih sulit, konsumsi masyarakat kita tetap tangguh,” ujar Destry dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (23/6/2026).
Namun, ketahanan konsumsi dalam negeri bukan berarti tanpa ancaman. Gangguan pada jalur distribusi minyak global—khususnya penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik Iran–Amerika Serikat—telah mendorong harga minyak mentah menembus US$100 per barel. Lonjakan ini diprediksi akan memicu inflasi dunia, yang pada akhirnya bisa menggerus daya beli masyarakat Indonesia.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebagai langkah stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi. Destry menekankan bahwa kebijakan moneter yang ketat diperlukan agar guncangan eksternal tidak menggerus fundamental ekonomi domestik. “Kenaikan suku bunga adalah langkah forward looking untuk menjaga inflasi dan stabilitas rupiah,” jelasnya.
Menurut Destry, ketahanan konsumsi rumah tangga juga menjadi sinyal positif bagi investor asing. Di saat banyak negara menghadapi ketidakpastian, Indonesia tetap menawarkan pasar domestik yang besar dan stabil. Hal ini membuat Indonesia terus dilirik sebagai tujuan investasi, meskipun risiko global masih tinggi.
Bila guncangan eksternal tidak diantisipasi, dampaknya bisa langsung terasa pada sektor eksternal: ekspor melambat, rupiah tertekan, dan inflasi naik. Semua itu berpotensi mengurangi kemampuan konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, BI terus memantau perkembangan global dan siap mengambil langkah penyesuaian kebijakan lebih lanjut.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa lama konsumsi domestik mampu bertahan jika tekanan eksternal berlanjut. Apakah kenaikan suku bunga dan stabilitas nilai tukar cukup untuk menjaga momentum pertumbuhan? Ataukah Indonesia perlu mengandalkan sektor lain untuk memperkuat fondasi ekonominya? Jawabannya akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik dan kebijakan moneter yang diambil dalam beberapa bulan mendatang.



