Daniel Munoz: Pahlawan Tak Terduga yang Membawa Kolombia ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Bek kanan Crystal Palace, Daniel Munoz, menjadi penentu kemenangan Kolombia atas DR Congo dengan gol telat yang mengamankan tiket ke babak 32 besar.
- Munoz, yang sebelumnya dianggap pemain pelapis, kini mencatatkan lima gol dalam 46 penampilan bersama timnas, termasuk dua gol di Copa America 2024.
- Performa impresif Munoz menunjukkan kedalaman skuad Kolombia, menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk mengembangkan pemain dari lini belakang yang produktif.

Bek kanan Daniel Munoz tampil sebagai pahlawan tak terduga bagi Kolombia setelah gol dramatisnya di menit akhir memastikan kemenangan 1-0 atas DR Congo pada laga Grup K Piala Dunia 2026, Selasa (23/6) waktu setempat. Hasil ini mengantarkan tim berjuluk Los Cafeteros itu melaju ke babak 32 besar turnamen.
Di tengah sorotan yang tertuju pada bintang Bayern Munich, Luis Diaz, dan gelandang Minnesota United, James Rodriguez, Munoz justru menjadi pembeda. Pemain berusia 29 tahun itu mencetak gol keduanya di turnamen ini setelah sebelumnya membuka kemenangan 3-1 atas Uzbekistan pada laga perdana. Gol tersebut tercipta berkat umpan terobosan brilian dari Juan Fernando Quintero yang sukses menembus pertahanan rapat DR Congo yang dikawal kiper Lionnel Mpasi.
Namun, perjalanan Munoz tidak mulus. Ia sempat mencetak gol pada menit kedelapan, tetapi wasit Italia Maurizio Mariani menganulirnya setelah meninjau VAR karena posisi offside. Hampir 70 menit berselang, ia akhirnya memecah kebuntuan dan dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan. Meski demikian, Munoz merendah. โHanya karena saya mencetak gol bukan berarti saya bintang. Kami semua bintang. Kami semua meraih tiga poin ini. Ini adalah keluarga, dan di sini, bintangnya adalah Kolombia,โ ujarnya usai laga.
Kiprah Munoz menjadi bukti bahwa Kolombia tidak hanya bergantung pada pemain depan. Sejak bergabung dengan Crystal Palace pada 2023, ia telah mencetak 11 gol dan 16 assist, menunjukkan produktivitas luar biasa dari posisi bek sayap. Sebelumnya, selama empat musim di Genk, ia bermain lebih ofensif dengan torehan 19 gol dan 20 assist. Di Copa America 2024, ia juga menjadi salah satu pencetak gol terbanyak timnya dengan dua gol, membantu Kolombia melaju hingga final.
Bagi Indonesia, kisah Munoz memberikan pelajaran berharga. Pengembangan pemain dari lini belakang yang mampu berkontribusi ofensif masih jarang terjadi di sepak bola Tanah Air. Bek sayap seperti Asnawi Mangkualam atau Pratama Arhan memiliki potensi serupa, namun belum konsisten dalam hal produktivitas gol. Kolombia membuktikan bahwa investasi pada pemain bertahan yang memiliki naluri menyerang dapat menjadi pembeda di turnamen besar.
Dengan kelolosan ini, Kolombia menunggu lawan di babak 32 besar. Sementara itu, Munoz terus menunjukkan bahwa peran bek sayap modern tidak lagi sekadar bertahan, melainkan juga menjadi ancaman di kotak penalti lawan. Akankah Indonesia suatu hari memiliki โDaniel Munozโ sendiri?



