Lima Pemain Panama yang Bisa Membuat Inggris Gigit Jari di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Panama bertekad memutus rekor enam kekalahan beruntun di Piala Dunia saat berhadapan dengan Inggris, setelah dua edisi sebelumnya selalu kalah di fase grup.
- Gelandang Adalberto Carrasquilla yang sempat cedera kini siap tampil, menjadi motor serangan sekaligus kreator utama tim berjuluk Los Canaleros.
- Kombinasi pemain muda seperti Jose Cordoba dan pengalaman Michael Murillo menjadi senjata utama Panama untuk mengejutkan Inggris di laga hidup-mati.

Panama datang ke Piala Dunia 2026 dengan beban sejarah: belum pernah meraih satu pun kemenangan dalam lima pertandingan sebelumnya. Kini, di laga melawan Inggris, mereka berpeluang menyamai rekor terburuk turnamen jika kembali menelan kekalahan. Namun, skuad tertua dan paling berpengalaman di ajang ini tidak berniat menyerah begitu saja.
Pelatih Thomas Christiansen membawa tim yang rata-rata berusia di atas 30 tahun, dengan total caps tertinggi di antara 32 peserta. Ini adalah generasi emas yang gagal di Rusia 2018 dan kini hanya bisa bermain untuk harga diri. Namun, di balik status underdog, ada beberapa pemain yang bisa menjadi mimpi buruk bagi Three Lions.
Adalberto Carrasquilla, gelandang tengah yang dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Concacaf 2024, menjadi tumpuan utama. Cedera paha yang dideritanya sejak final liga Meksiko pada 24 Mei lalu membuatnya absen di dua laga awal. Namun, indikasi terbaru menunjukkan ia sudah fit untuk dimainkan. Carrasquilla dikenal sebagai pengatur tempo dan kreator serangan, mampu melepaskan tekanan dengan dribel lincahnya. Uniknya, ia juga mantan penata rambut yang masih sesekali memotong rambut rekan setimnya.
Di lini belakang, Jose Cordoba menjadi andalan. Bek kiri Norwich City ini baru mencetak gol internasional pertamanya pada Maret lalu saat melawan Afrika Selatan. Setelah sempat kesulitan beradaptasi di Inggris, ia bangkit di bawah asuhan Philippe Clement. Julukan "Prince of Panama" di Carrow Road bukan tanpa alasan: ia memimpin statistik recovery bola di antara bek tengah Championship musim lalu. Kecepatan dan kekuatan fisiknya menjadi modal untuk menghentikan serangan balik Inggris.
Cristian Martinez, gelandang berambut pirang yang dijuluki El Fulo, menjadi kejutan di turnamen ini. Ia tidak dijamin starter, tetapi penampilannya melawan Kroasia membuatnya menjadi pemain Panama pertama yang meraih penghargaan Man of the Match Piala Dunia. Christiansen memuji performanya sebagai yang terbaik dalam enam tahun terakhir. Martinez, yang pernah bermain di MLS dan Israel, kembali ke peran menyerang yang lebih natural setelah sebelumnya bergeser ke tengah.
Michael Amir Murillo, bek sayap yang kini membela Besiktas, adalah satu-satunya pemain Panama yang bermain di lima liga top Eropa musim lalu sebelum hengkang dari Marseille pada Februari. Ia menjadi kambing hitam atas kebobolan tim, tetapi mentalitasnya yang keras—dibentuk oleh masa kecil di lingkungan keras Colon—membuatnya tetap tangguh. Murillo sudah pernah merasakan pertandingan melawan Inggris pada 2018 dan siap memberikan perlawanan.
Di lini depan, Cecilio Waterman menjadi figur emosional. Penyerang berusia 35 tahun ini sempat viral setelah memeluk Thierry Henry usai mencetak gol kemenangan melawan AS di Nations League. Namun, ia juga terlibat insiden dorong-mendorong dengan rekan setim Jose Luis Rodriguez dalam sesi latihan menjelang laga. Christiansen meredamnya sebagai hal biasa. Waterman bersaing dengan Jose Fajardo untuk tempat starter, dan ambisinya untuk mengulang momen heroik menjadi ancaman nyata bagi pertahanan Inggris.
Bagi Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik untuk melihat bagaimana tim non-unggulan bisa bersaing dengan kekuatan besar. Pelajaran tentang manajemen pemain senior, adaptasi taktik, dan mentalitas pantang menyerah bisa menjadi referensi bagi pengembangan sepak bola nasional. Apakah Panama mampu memutus kutukan atau justru menambah deretan kegagalan? Jawabannya akan terlihat di lapangan.



