Mark Lee Resmi Pimpin Singapore Business Federation, Gantikan Teo Siong Seng yang Terseret Kasus Kartel
Baca dalam 60 detik
- Mark Lee, CEO Sing Lun Holdings, terpilih sebagai Ketua Singapore Business Federation untuk periode 2026–2028.
- Pendahulunya, Teo Siong Seng, mundur setelah dituduh AS terlibat kartel penetapan harga kontainer pengiriman kering.
- Kepemimpinan baru SBF dihadapkan pada tantangan geopolitik, AI, dan perdagangan global, serta persiapan keketuaan ASEAN Singapura 2027.

Pengusaha Mark Lee resmi menjabat sebagai Ketua Singapore Business Federation (SBF) menggantikan Teo Siong Seng yang memilih tidak mencalonkan diri kembali setelah dituduh terlibat dalam kartel penetapan harga kontainer pengiriman kering oleh Amerika Serikat. Lee, yang juga Anggota Parlemen yang Ditunjuk, akan memimpin organisasi pengusaha terbesar di Singapura itu selama dua tahun ke depan, mulai 2026 hingga 2028.
Lee, CEO Sing Lun Holdings—perusahaan dengan portofolio di sektor industri, properti, dan investasi—sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua dan bendahara SBF. Dalam beberapa pekan terakhir, ia telah menjalankan tugas ketua setelah Teo mengambil cuti pada Mei lalu. Pemilihannya dilakukan oleh dewan SBF yang baru terbentuk dalam rapat umum tahunan pada Rabu (24/6).
"Sebagai ketua SBF, prioritas saya adalah memastikan dunia usaha tetap kompetitif, tangguh, dan siap menghadapi masa depan," ujar Lee dalam pernyataan resmi. Ia menekankan komitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah, mitra industri, dan pelaku bisnis dalam mengembangkan solusi praktis serta mendorong lingkungan yang pro-bisnis. Lee juga menyoroti pentingnya membantu perusahaan membangun kapabilitas untuk berinovasi, go internasional, dan tumbuh dengan percaya diri.
Lee melihat peluang besar bagi Singapura untuk memperdalam integrasi ekonomi regional, terutama menjelang keketuaan ASEAN pada 2027. "SBF akan bekerja sama dengan mitra di seluruh kawasan untuk menerjemahkan peluang ini menjadi hasil nyata bagi dunia usaha dan mendorong ASEAN yang lebih terhubung, inovatif, dan berkelanjutan," tambahnya. Langkah ini dinilai krusial di tengah ketegangan geopolitik global, percepatan kecerdasan buatan, dan perubahan pola perdagangan yang menghadirkan tantangan sekaligus peluang.
Pergantian kepemimpinan ini tidak lepas dari kasus hukum yang membelit pendahulu Lee. Teo Siong Seng, yang juga menjabat sebagai direktur pelaksana perusahaan pelayaran Pacific International Lines, disebut oleh Departemen Kehakiman AS pada akhir Mei sebagai bagian dari kartel penetapan harga kontainer pengiriman kering. Akibatnya, Teo mengambil cuti dari jabatannya di SBF, Satuan Tugas Ketahanan Ekonomi Singapura, Universitas Nasional Singapura, dan perusahaannya sendiri. Ia menyatakan tidak akan mencalonkan diri kembali sebagai ketua SBF.
Bagi Indonesia, dinamika di SBF patut dicermati mengingat Singapura merupakan mitra dagang utama dan investor terbesar di Tanah Air. Kepemimpinan baru SBF yang fokus pada integrasi ASEAN dan kesiapan menghadapi disrupsi teknologi dapat berdampak pada arus investasi dan kerja sama bisnis lintas batas. Pengusaha Indonesia yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) atau asosiasi bisnis lainnya perlu mengantisipasi perubahan prioritas di kalangan mitra Singapura.
SBF sendiri mengucapkan terima kasih kepada dewan yang lama, termasuk Teo, atas kontribusinya terhadap komunitas bisnis Singapura. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Lee mampu menavigasi organisasi di tengah tekanan eksternal dan tuntutan internal untuk tetap relevan di era yang sarat ketidakpastian.



