Sekolah Rakyat Mengubah Nasib: Risky Kini Bisa Membaca dan Bermimpi Jadi Tentara
Baca dalam 60 detik
- Muhammad Risky Pratama, 12 tahun, dulunya berjualan ikan keliling untuk membantu keluarga, kini bersekolah di SRMP 2 Medan.
- Program Sekolah Rakyat memberikan akses pendidikan gratis dan asrama, mengubah Risky dari tidak bisa membaca menjadi mampu membaca dan salat.
- Kisah Risky menjadi contoh nyata bagaimana intervensi pendidikan dapat memutus rantai kemiskinan dan membuka peluang masa depan.

Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun di Medan, Muhammad Risky Pratama, berhasil mengubah takdirnya setelah diterima di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan. Sebelumnya, ia harus mengayuh sepeda puluhan kilometer setiap hari untuk menjajakan ikan segar di kawasan Bagan Deli, dengan penghasilan yang tak menentuโkadang hanya Rp30 ribu, paling banter Rp90 ribu jika semua ikan laku terjual.
Risky tinggal bersama kakek dan neneknya, Salamuddin (63) dan Masitah (55), sejak kelas 4 SD. Ibunya merantau ke luar daerah, sementara ayahnya telah berkeluarga lagi dan jarang bertemu. Salamuddin harus menanggung 13 anggota keluarga, sehingga biaya sekolah Risky menjadi beban yang hampir tak terpikul. "Dulu saya menangis karena tak mampu menyekolahkan dia. Dia bilang, 'Cita-cita awak ini nek, apa bisa awak sekolah?'" kenang Masitah dengan mata berkaca-kaca.
Kehadiran program Sekolah Rakyat menjadi titik balik. Risky tidak hanya mendapatkan pendidikan gratis, tetapi juga tempat tinggal di asrama, bimbingan dari wali asuh, dan lingkungan yang mendukung. "Dulu saya enggak pandai baca, sekarang jadi pandai. Enggak pandai niat salat dan wudhu, sekarang bisa," ujar Risky dengan polos. Perubahan ini diamini oleh Masitah yang melihat cucunya menjadi lebih mandiri, percaya diri, dan rajin beribadah. "Kalau pulang, dia tidak lagi keluyuran, tapi langsung ke musala atau masjid," tambahnya.
Kisah Risky mencerminkan tantangan besar pendidikan di Indonesia: masih banyak anak putus sekolah karena kemiskinan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka partisipasi sekolah di Sumatera Utara untuk jenjang SMP baru mencapai 85% pada 2023, dengan kesenjangan signifikan di daerah pesisir dan pedesaan. Program Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi konkret, menyediakan pendidikan gratis plus asrama bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Inisiatif ini sejalan dengan upaya pemerintah menekan angka anak tidak sekolah (ATS) yang masih mencapai 4,3 juta jiwa secara nasional.
Bagi Risky, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan gerbang menuju cita-cita menjadi tentara. "Saya senang dengan fasilitas di sini, guru-guru baik, wali asuh perhatian," katanya. Kakeknya, Salamuddin, berharap cucunya bisa terus sekolah hingga tinggi. "Kami kerahkan semua supaya dia terdidik, menjadi orang," ujarnya. Pertanyaan besarnya kini: apakah program Sekolah Rakyat bisa diperluas untuk menjangkau lebih banyak anak seperti Risky di seluruh Indonesia?



