Stokes Minta Maaf ke Rekan Setim jelang Kembali Pimpin Inggris
Baca dalam 60 detik
- Kapten Inggris Ben Stokes menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada rekan setimnya setelah penyelidikan pelanggaran jam malam dan insiden klub malam.
- Stokes dan Gus Atkinson dinyatakan tidak bersalah atas kekerasan namun mendapat peringatan tertulis dari ECB karena melanggar kewajiban kontrak.
- Keduanya kembali ke XI untuk Tes ketiga melawan Selandia Baru dengan skor seri 1-1, fokus pada kemenangan penentu seri.

Ben Stokes, kapten tim kriket Inggris, secara terbuka meminta maaf kepada rekan setimnya sebelum kembali memimpin skuad pada Tes ketiga melawan Selandia Baru di Trent Bridge, Kamis (14/12). Permintaan maaf itu muncul setelah penyelidikan internal atas pelanggaran jam malam dan insiden di klub malam London usai kemenangan Inggris di Tes pertama.
Stokes dan pelempar cepat Gus Atkinson sempat dicoret dari Tes kedua yang berakhir dengan kekalahan 253 run. Setelah melalui proses investigasi, Regulator Kriket menyimpulkan keduanya tidak bersalah atas "tindakan kekerasan". Namun, sidang disiplin Dewan Kriket Inggris dan Wales (ECB) menemukan mereka "melanggar kewajiban kontraktual" dan memberikan peringatan tertulis.
"Itu adalah salah satu hal pertama yang harus saya lakukan sebagai kapten," ujar Stokes. Ia mengakui insiden tersebut berdampak luas, termasuk pada Joe Root yang menggantikannya sebagai kapten dan tiga pemain debutanโSonny Baker, Jordan Cox, dan James Rewโyang momen bersejarahnya terusik. "Akan bodoh dan naif jika saya tidak mengakui dan menghadapinya. Anda harus bertanggung jawab, menatap mata semua orang, dan meminta maaf sebagaimana mestinya. Itulah yang saya lakukan."
Hubungan Stokes dengan pelatih kepala Brendon McCullum juga menjadi sorotan. McCullum sebelumnya enggan berkomentar soal masa depan Stokes sebagai kapten dan berulang kali menyebut "kekhawatiran" terhadap pemain serba bisa itu. Namun, keduanya menegaskan tidak ada keretakan. "Kami tidak berencana mengalami hal seperti ini bersama di lingkungan profesional. Mungkin ke depannya kami akan melihat ke belakang dan merasa ini justru mendekatkan kami," kata Stokes. Ia menambahkan bahwa McCullum adalah teman yang peduli, dan kekhawatiran itu wajar.
Stokes juga mengungkapkan bahwa ia secara aktif menjaga komunikasi dengan Atkinson, yang pertama kali menghadapi sorotan publik. Mengingat pengalamannya sendiri pada 2017, Stokes menasihati Atkinson untuk "membiarkan waktu bekerja" dan meyakinkan bahwa "semuanya akan baik-baik saja".
Konteks bagi penggemar kriket Indonesia: meskipun kriket belum sepopuler sepak bola, perkembangan tim Inggris selalu menarik perhatian komunitas kriket tanah air yang terus tumbuh. Kasus disiplin seperti ini mengingatkan pada pentingnya profesionalisme atlet, terutama saat bermain di luar negeri. Bagi Indonesia yang tengah mengembangkan kriket, integritas pemain menjadi contoh yang patut dicermati.
Dengan skor seri 1-1, Tes ketiga menjadi penentu. Stokes menegaskan fokus utama kini adalah kriket. "Ada banyak hal terjadi, tapi kami harus memusatkan perhatian pada hal terpenting: hasil pertandingan ini." Pertanyaannya, mampukah Stokes dan Atkinson mengembalikan performa tim dan merebut seri di kandang sendiri?



