Kekuatan Tersembunyi Spanyol: Pemain Pelapis yang Jadi Senjata Andalan di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan 4-0 Spanyol atas Arab Saudi di Grup H Piala Dunia 2026 menunjukkan peran krusial pemain non-bintang seperti Mikel Oyarzabal yang mencetak dua gol dan satu assist dalam 24 menit.
- Pelatih Luis de la Fuente menekankan bahwa kedalaman skuad menjadi kunci, dengan pemain seperti Dani Olmo (akurasi umpan 92%) dan Alex Baena memberikan kontribusi taktis yang vital.
- Fenomena ini relevan bagi Indonesia: timnas Garuda perlu membangun kedalaman skuad serupa untuk bersaing di level Asia, bukan hanya mengandalkan satu atau dua bintang.

Spanyol membuktikan bahwa status favorit Piala Dunia 2026 tidak hanya bertumpu pada nama-nama besar seperti Lamine Yamal atau Rodri. Kemenangan telak 4-0 atas Arab Saudi di laga kedua Grup H menjadi panggung bagi para pemain pelapis yang selama ini jarang tersorot, namun justru menjadi fondasi kokoh La Roja.
Mikel Oyarzabal menjadi bintang yang tak terduga. Striker Real Sociedad itu terlibat langsung dalam tiga dari empat gol Spanyol dalam 24 menit pertama pertandingan di Guadalajara, Meksiko. Dua gol dan satu assist untuk Yamal membuat namanya melesat, meski pelatih Luis de la Fuente mengaku tidak terkejut. โSaya tidak tahu siapa pun yang meremehkannya. Siapa pun yang paham sepak bola menghargainya luar biasa,โ ujar De la Fuente. Ia menambahkan bahwa Oyarzabal bisa membangun warisan luar biasa di sepak bola Spanyol.
Namun, bukan hanya Oyarzabal yang tampil gemilang. Dani Olmo menunjukkan ketenangan dengan akurasi umpan mencapai 92 persen (35 dari 38 operan sukses). De la Fuente memujinya sebagai salah satu pemain terbaik dunia dalam bermain di antara garis lawan. Sementara itu, Alex Baena mendapat pujian khusus karena mampu memberikan lebar serangan sekaligus permainan tengah yang efektif. โDia memiliki kualitas luar biasa dan tembakan fantastis. Dia berbeda, tapi sangat cocok dengan cara kami bermain,โ kata sang pelatih.
Kedalaman skuad Spanyol juga terlihat dari masuknya Mikel Merino di babak kedua meski kondisi fisiknya belum prima. De la Fuente menyebut Merino sebagai โbatu karangโ yang selalu siap. Nama-nama seperti Fabian Ruiz, Ferran Torres, dan Yeremy Pino juga menjadi bagian dari ekosistem yang membuat Spanyol seimbang dan kompak. Mereka mungkin tidak sepopuler Yamal di pemberitaan internasional, namun peran mereka vital.
Fenomena ini memberikan pelajaran berharga bagi sepak bola Indonesia. Timnas Garuda seringkali terlalu bergantung pada satu atau dua pemain bintang, seperti yang terlihat dalam kegagalan di Kualifikasi Piala Dunia. Untuk bersaing di level Asia, Indonesia perlu membangun kedalaman skuad yang solid, di mana setiap pemain pelapis bisa menjadi penentu kemenangan. Investasi pada pembinaan usia muda dan kompetisi domestik yang ketat menjadi kunci, seperti yang dilakukan Spanyol.
Baena, yang turut membangun dua gol pertama Spanyol, menegaskan bahwa para pemain yang kurang dikenal tetap dihargai di dalam tim. โMungkin kami tidak mendapat perhatian dunia yang sama, tapi pemain mana pun di skuad Spanyol akan menjadi starter di tim nasional lain. Kami tahu seberapa bagus kami, dan itu yang terpenting,โ katanya. Spanyol akan menghadapi Uruguay pada laga pamungkas Grup H, 26 Juni, untuk memastikan tempat di fase gugur.
Pertanyaan besarnya: mampukah Indonesia meniru model Spanyol dalam membangun kedalaman skuad, atau akan terus bergantung pada secercah harapan dari segelintir pemain? Jawabannya akan menentukan masa depan sepak bola Tanah Air di kancah Asia.



