Ziarah Nasional Polri: Meneladani Integritas Hoegeng dan Visi Habibie Jelang Bhayangkara ke-80
Baca dalam 60 detik
- Polri menggelar ziarah serentak di 38 provinsi dan ziarah laut di Teluk Jakarta sebagai puncak rangkaian menyambut Hari Bhayangkara ke-80.
- Wakapolri Dedi Prasetyo memimpin langsung upacara di TMPN Kalibata, menekankan ziarah bukan sekadar ritual, melainkan momentum refleksi nilai pengabdian.
- Penghormatan khusus diberikan kepada Kapolri pertama Raden Said Soekanto, Presiden BJ Habibie, dan simbol integritas Hoegeng Iman Santoso.

Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo memimpin upacara ziarah nasional dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (24/6/2026), sebagai puncak rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Kegiatan yang berlangsung serentak di seluruh Indonesia ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan upaya institusi untuk merawat memori kolektif bangsa tentang harga sebuah pengabdian.
Dalam sambutannya di hadapan para pejabat utama Mabes Polri, Wakapolri menggarisbawahi bahwa setiap pusara yang diziarahi menyimpan pelajaran berharga. "Dari Jenderal Raden Said Soekanto kita belajar kepeloporan membangun kepolisian, dari B.J. Habibie kita belajar visi dan inovasi, dari Jenderal Hoegeng kita belajar keteladanan moral," ujarnya. Pernyataan itu menjadi benang merah yang menghubungkan masa lalu dengan tantangan institusi saat ini: bagaimana menjaga kepercayaan publik di tengah dinamika sosial yang kian kompleks.
Rangkaian ziarah tidak terbatas di darat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Polri menggelar ziarah laut di perairan Teluk Jakarta yang dipimpin oleh Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam). Pelarungan karangan bunga menjadi simbol penghormatan kepada para pejuang bahari yang gugur tanpa meninggalkan tanda makam. Langkah ini menunjukkan perluasan makna penghormatan—tidak hanya kepada pahlawan yang dikenal, tetapi juga kepada mereka yang jasanya tersembunyi di dasar laut.
Di TPU Tanah Kusir, jajaran Polri memberikan penghormatan khusus kepada Jenderal Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, Kapolri pertama yang meletakkan fondasi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Tak jauh dari sana, pusara Presiden ke-3 RI Prof. Dr. Ir. H. B.J. Habibie juga menjadi tujuan ziarah. Sementara itu, di TPBU Giritama, Bogor, Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Pol. Wahyu Widada memimpin doa di makam Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso—nama yang identik dengan integritas tanpa kompromi.
Wakapolri menegaskan bahwa tradisi ini adalah pengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. "Kita datang membawa doa, pulang membawa tanggung jawab untuk meneruskan pengabdian," tegasnya. Pernyataan itu relevan di tengah sorotan publik terhadap reformasi birokrasi Polri, di mana nilai-nilai seperti profesionalisme, transparansi, dan humanisme menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar.
Bagi publik Indonesia, rangkaian ziarah ini menjadi cermin bahwa institusi keamanan sedang berusaha merevitalisasi moral dasar pengabdian. Di era di mana kepercayaan terhadap aparat menjadi isu strategis, langkah simbolis seperti ini—jika diikuti dengan aksi nyata—bisa menjadi fondasi untuk membangun kembali hubungan yang lebih sehat antara polisi dan masyarakat. Pertanyaan yang tersisa: apakah semangat dari ziarah ini akan benar-benar tercermin dalam pelayanan sehari-hari?



