Fabregas Buka Suara: Nico Paz Mirip Kaka, dan Mengapa Ia Menolak Tawaran Inter, Milan, hingga Roma
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Como, Cesc Fabregas, membandingkan Nico Paz dengan legenda AC Milan, Kaka, meski ada perbedaan gaya bermain.
- Fabregas menegaskan komitmennya pada Como dan mengungkapkan bahwa ia tidak tergoda pendekatan klub-klub besar Serie A.
- Ia juga membeberkan pengaruh Jose Mourinho dan Antonio Conte dalam karier kepelatihannya.

Cesc Fabregas, pelatih Como yang baru saja membawa timnya promosi ke Liga Champions, angkat bicara mengenai masa depannya dan potensi bintang mudanya, Nico Paz. Dalam wawancara eksklusif dengan La Gazzetta dello Sport, ia dengan tegas membantah akan hengkang dan membandingkan Nico Paz dengan legenda AC Milan, Kaka, meski dengan catatan khusus.
Kenaikan Como dari Serie B ke pentas Liga Champions dalam tiga tahun memang spektakuler. Banyak pihak mengaitkan kesuksesan ini dengan investasi besar dari pemilik asal Indonesia. Namun, Fabregas menilai hal itu bukan faktor utama. "Memang benar Como mengeluarkan uang, tapi pertumbuhan klub ini berada di level yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya. Ia mencontohkan PSG yang butuh 15 tahun untuk menjuarai Liga Champions, sementara Arsenal tujuh tahun untuk Premier League. "Saya tidak melihat uang yang dikeluarkan, melainkan bagaimana memaksimalkan skuad dan individu," tegasnya.
Menariknya, Fabregas mengungkapkan bahwa gaji pemain Como tidaklah besar. "Ada delapan atau sembilan tim di liga dengan gaji lebih tinggi dari kami," katanya. Ini menjadi sinyal bahwa prestasi Como bukan sekadar hasil belanja pemain mahal, melainkan manajemen yang cerdas.
Meski demikian, kabar ketertarikan klub-klub besar seperti Inter, Milan, Napoli, dan Roma terhadap Fabregas memang santer terdengar. Namun, ia menegaskan, "Ketika saya membuat keputusan, saya tidak mengubahnya. Saya tidak akan meninggalkan Como." Ia mengaku mendengarkan tawaran sebagai bentuk penghormatan, tetapi hatinya tetap di Como.
Salah satu aset berharga Como adalah Nico Paz, pemain muda yang dibeli dari Real Madrid dengan klausul pembelian kembali. Fabregas sangat memuji kualitas pemain berusia 21 tahun itu. "Nico punya segalanya, fisik dan kualitas," pujinya. Ia bahkan menyebut Nico memiliki keberanian, visi, dan ambisi yang luar biasa. "Dia seperti sudah bermain selama satu dekade," tambahnya.
Perbandingan dengan Kaka pun muncul, namun Fabregas memberikan nuansa berbeda. "Kaka lebih eksplosif, punya ledakan ke depan yang sulit dihentikan, seperti Iniesta. Nico lebih fisik, lebih posisional, tapi dia tahu cara menggunakan tubuhnya dengan cara berbeda," jelasnya. Fabregas menekankan bahwa Nico memiliki insting gol dan umpan akhir yang brilian, serta pemahaman permainan yang terus berkembang.
Bagi sepak bola Indonesia, kisah Como menjadi inspirasi bahwa investasi yang tepat dan manajemen yang baik dapat mengangkat klub ke level tertinggi. Pemilik Indonesia, PT. Anindya Group, telah membuktikan bahwa dengan strategi yang matang, mimpi besar bisa tercapai. Ini juga menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia untuk tidak hanya mengandalkan belanja pemain, tetapi juga pengembangan pemain muda dan visi jangka panjang.
Soal pemain terbaik Serie A saat ini, Fabregas memilih kapten Inter, Lautaro Martinez, sebagai puncak kualitas Calcio. "Dia adalah yang terbaik," ujarnya singkat. Terakhir, ia mengenang bagaimana Jose Mourinho dan Antonio Conte membentuk pola pikirnya. "Mourinho bermain dengan pikiran saya, dia tahu apa yang bisa saya lakukan. Conte mengajarkan bahwa tidak ada yang bisa dianggap remeh, semua pemain diperlakukan sama," kenangnya.
Dengan segala pencapaian dan komitmennya, Fabregas tampaknya akan terus membangun Como menjadi kekuatan baru di Eropa. Pertanyaannya, mampukah Nico Paz mengikuti jejak Kaka dan menjadi bintang dunia? Atau akankah klausul Real Madrid mengubah segalanya? Kita tunggu saja.



