Tragedi Penembakan di Sekolah Thailand: Pelajar 14 Tahun Jadi Pelaku, 9 Tewas
Baca dalam 60 detik
- Penembakan di sekolah Debsirin Nonthaburi menewaskan 9 orang dan melukai 23 lainnya, pelaku adalah siswa berusia 14 tahun.
- Insiden ini memicu kembali perdebatan tentang kontrol kepemilikan senjata di Thailand, negara dengan kepemilikan senjata tertinggi di Asia Tenggara.
- Keluarga korban dan saksi mata menggambarkan kepanikan dan ketakutan selama 40 menit pengepungan, menyoroti perlunya evaluasi keamanan sekolah di kawasan.

BANG KRUAI, Thailand โ Sembilan orang tewas dan 23 lainnya luka-luka dalam penembakan massal di Sekolah Debsirin Nonthaburi, pinggiran Bangkok, Jumat pagi (7/8). Pelaku, seorang siswa berusia 14 tahun, nekat melakukan aksinya setelah sebelumnya menembak mati kakek-neneknya di rumah. Insiden ini menjadi penembakan terburuk di Thailand sejak 2022 dan kembali memicu perdebatan sengit tentang pengendalian senjata api di negara dengan kepemilikan senjata tertinggi di Asia Tenggara.
Korban tewas terdiri dari tiga guru, dua pejabat sekolah, dan empat lainnya, termasuk pelaku yang mengakhiri hidupnya sendiri. Polisi menyebut pelaku menggunakan setidaknya 26 peluru, dan 34 butir amunisi lain ditemukan di tubuhnya. Aksi berlangsung sekitar 40 menit, dimulai pukul 10.00 waktu setempat, setelah pelaku naik bus sejauh 18 kilometer dari rumahnya ke sekolah.
Khim, siswi 14 tahun yang meminta identitasnya disamarkan, menuturkan kepada Reuters bagaimana ia dan teman-temannya awalnya mengira suara tembakan berasal dari lokasi konstruksi. Namun, saat guru memerintahkan mereka masuk kelas dan mengonfirmasi adanya penembak aktif, kepanikan pun melanda. "Saya mendengar banyak tembakan dan merasa kami tidak akan selamat," ujarnya. Para siswa memindahkan meja untuk memblokir pintu, mematikan lampu, dan berdesakan di dekat jendela.
Di tengah kekacauan, Khim terus memantau pesan di tabletnya. Kakaknya yang berada di gedung sebelah mengirim kabar, sementara ibunya berpesan agar waspada. "Saya bilang, 'Bu, jangan telepon, karena deringnya bisa berbunyi,'" kenang Khim. Ketakutan memuncak ketika ia mendengar suara tembakan sangat dekat, hanya beberapa pintu dari koridor kelasnya. "Saya tidak tahu apakah penembak menargetkan orang tertentu atau ingin menembak seluruh sekolah."
Sementara itu, Kwan, perawat berusia 52 tahun yang juga ibu dari kakak Khim, menerima telepon panik dari putrinya yang bersembunyi di Gedung 4. Berbekal informasi dari grup chat siswa, Kwan memperkirakan pelaku menggunakan pistol genggam. "Saya minta anak saya menghitung tembakan untuk memperkirakan apakah magasinnya habis," katanya. Namun, suara tembakan semakin mendekat hingga mencapai gedung tempat putrinya berada. Kwan menghubungi hotline darurat dan memberikan informasi posisi pelaku kepada petugas, tetapi sambungan telepon dengan putrinya sempat terputus. Beberapa menit kemudian, putrinya menelepon kembali dan mengabarkan dirinya selamat.
Peristiwa ini mengguncang Thailand dan kawasan Asia Tenggara. Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan kepemilikan senjata dan protokol keamanan di lingkungan pendidikan. Meski kepemilikan senjata di Indonesia lebih ketat, kasus kekerasan di sekolah tetap menjadi perhatian, terutama terkait kesehatan mental remaja dan akses terhadap senjata ilegal.
Menurut data Small Arms Survey, Thailand memiliki tingkat kepemilikan senjata sipil tertinggi di Asia Tenggara, dengan sekitar 15 senjata per 100 penduduk. Meski demikian, undang-undang kepemilikan senjata di Thailand sebenarnya ketat, namun celah hukum dan pasar gelap membuat senjata mudah diperoleh. Analis keamanan menilai insiden ini akan mendorong pemerintah Thailand untuk mengevaluasi kembali regulasi senjata dan prosedur keamanan sekolah.
Keluarga Khim akhirnya berkumpul kembali di rumah mereka di pinggiran Bangkok. "Saat bersama, kami sering bertengkar. Tapi kali ini, saya tidak pernah menyayanginya sebanyak ini," ujar Khim tentang kakaknya. Momen haru ini menjadi pengingat betapa rapuhnya kehidupan di tengah tragedi.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung: akankah pemerintah Thailand dan negara-negara Asia Tenggara lainnya memperketat kontrol senjata dan meningkatkan kesiapsiagaan sekolah menghadapi situasi darurat? Atau akankah insiden ini hanya menjadi catatan kelam yang cepat dilupakan?



