Michael Johnson Buka Suara soal Kebangkrutan Grand Slam Track: Klarifikasi Pembayaran Atlet dan Tuduhan Gaji Pribadi
Baca dalam 60 detik
- Legenda atletik Michael Johnson angkat bicara untuk pertama kalinya sejak Grand Slam Track (GST) kolaps, memastikan seluruh atlet kontrak telah menerima hak mereka.
- Ia membantah tudingan kreditor yang menyebutnya membayar dirinya sendiri US$500 ribu sebelum musim perdana batal, dengan menjelaskan bahwa dana tersebut adalah penggantian biaya pribadi untuk operasional liga.
- Kasus ini menyoroti risiko finansial di balik liga olahraga baru yang agresif, sekaligus menjadi pelajaran bagi industri olahraga global, termasuk Indonesia yang tengah mengembangkan kompetisi serupa.

Empat kali peraih medali emas Olimpiade, Michael Johnson, akhirnya angkat bicara secara terbuka untuk pertama kalinya sejak liga atletik Grand Slam Track (GST) yang ia dirikan dinyatakan bangkrut. Dalam wawancara eksklusif dengan The Telegraph, ia menegaskan bahwa seluruh atlet yang terikat kontrak kini telah menerima pembayaran mereka, sekaligus membantah tudingan bahwa ia diam-diam menguras dana perusahaan untuk kepentingan pribadi.
GST, yang diluncurkan pada 2024 dengan janji hadiah uang dan gaji menggiurkan, harus menghentikan operasionalnya setelah seri final di Los Angeles dibatalkan dan perusahaan mengajukan kebangkrutan sukarela di Amerika Serikat pada Desember 2025. Sejumlah atlet top dunia, termasuk mantan juara dunia 1500 meter asal Inggris Josh Kerr dan peraih perak Olimpiade 2024 nomor 400 meter Matthew Hudson-Smith, tercatat memiliki piutang lebih dari ยฃ100 ribu (sekitar Rp2 miliar) masing-masing.
Asosiasi Manajer Atletik, yang mewakili banyak atlet, mengungkapkan bahwa total utang GST mencapai lebih dari US$30 juta (sekitar Rp480 miliar). Namun, Johnson menegaskan bahwa masalah utama yang memicu kolapsnya liga adalah "masalah modal yang katastropik" akibat mundurnya sejumlah investor. "Saya senang bisa meluruskan ini, karena ini adalah hal yang paling menyakitkan dan justru kebalikan dari apa yang diberitakan," ujarnya.
Kontroversi mencuat pada Maret 2026 ketika pengajuan hukum oleh kreditor menuduh Johnson membayar dirinya sendiri US$500 ribu (sekitar Rp8 miliar) beberapa hari sebelum musim kompetisi runtuh. Tuduhan itu sempat dibantah oleh perwakilan GST sebagai "tidak berdasar dan salah". Kini, Johnson memberikan penjelasan rinci: kartu kredit perusahaan telah penuh karena harus membiayai penerbangan 96 atlet beserta pendamping ke Miami dan Philadelphia, serta akomodasi hotel untuk 170 orang. "Saya memerintahkan tim perjalanan untuk menggunakan kartu kredit pribadi saya, dan saya akan diganti. Jadi, yang saya terima adalah penggantian," jelasnya.
Lebih jauh, Johnson mengaku telah meminjamkan US$2 juta (sekitar Rp32 miliar) ke perusahaan untuk memastikan atlet tetap terurus, dan memutuskan untuk tidak mengambil gaji. "Saya juga meminjamkan perusahaan US$2 juta untuk memastikan kami merawat para atlet. Saya memutuskan untuk mengorbankan gaji saya sendiri," tambahnya. Meski demikian, ia tetap berkomitmen mengembalikan US$500 ribu yang sempat menjadi sorotan, seperti yang dijanjikannya pada Maret lalu.
Dalam wawancara tersebut, Johnson juga mengungkapkan beban psikologis yang ia alami. "Saya pasti punya malam-malam tanpa tidur, terbangun dan berpikir: 'Ini salahku. Berita utama baru saja keluar โ apakah para atlet percaya itu?'" kenangnya. Ia mengaku mempertanyakan motivasi, integritas, dan karakternya sendiri. "Itu bagian tersulit dari semua ini. Mempertanyakan motivasi saya melakukan ini, mempertanyakan integritas saya, mempertanyakan karakter saya," tambahnya.
Kebangkrutan GST menjadi pelajaran berharga bagi industri olahraga global, termasuk Indonesia yang tengah giat mengembangkan kompetisi atletik dan liga olahraga baru. Fenomena ini menggarisbawahi pentingnya tata kelola keuangan yang transparan dan manajemen risiko yang matang, terutama ketika melibatkan investasi besar dan ekspektasi tinggi dari para atlet. Bagi Indonesia, yang mulai serius membangun ekosistem olahraga profesional, kasus ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan sebuah liga tidak hanya ditentukan oleh besarnya hadiah, tetapi juga keberlanjutan finansial dan kepercayaan para pemangku kepentingan.
Johnson, yang telah menjadi komentator BBC sejak 2001 dan berhenti sejak Olimpiade Paris 2024 untuk fokus pada GST, kini kembali ke dunia pundit. Namun, pertanyaan besar yang menggantung: akankah atlet-atlet top dunia kembali percaya pada liga swasta baru setelah pengalaman pahit ini? Atau, apakah model bisnis liga atletik seperti GST akan ditinggalkan selamanya? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi jejak rekam Johnson dalam melunasi kewajiban mungkin menjadi modal berharga untuk memulihkan reputasinya.



