Roma Tampil Kuat Lawan Brighton: Gasperini Andalkan Trio Malen, Dybala, dan Soulé
Baca dalam 60 detik
- Roma menurunkan skuad terbaiknya saat menghadapi Brighton dalam laga uji coba pramusim di Amex Stadium, dengan trio lini serang Malen, Dybala, dan Soulé menjadi sorotan utama.
- Pertandingan ini menjadi ujian terakhir bagi Roma sebelum kembali ke Italia, setelah sebelumnya menelan kekalahan dari Cardiff City namun bangkit dengan kemenangan telak atas Newport County.
- Laga ini juga menjadi ajang unjuk kemampuan bagi rekrutan anyar Roma, termasuk Santiago Castro dan Konstantinos Koulierakis yang duduk di bangku cadangan.

Pelatih anyar Roma, Gian Piero Gasperini, tidak main-main dalam laga uji coba pramusim terakhirnya di Inggris. Ia langsung menurunkan skuad utama saat Roma bertandang ke markas Brighton & Hove Albion di Amex Stadium, Sabtu sore. Trio lini serang yang ditunggu-tunggu, Donyell Malen, Paulo Dybala, dan Matias Soulé, langsung diplot sejak menit awal.
Ini menjadi pertemuan pertama kedua tim sejak mereka saling berhadapan di babak gugur Liga Europa 2024. Saat itu, Roma tampil perkasa dengan kemenangan agregat 4-1, berkat kemenangan telak 4-0 di Stadio Olimpico pada leg pertama. Namun, laga kali ini jelas berbeda; keduanya sama-sama dalam masa transisi dan mencoba menemukan ritme terbaik sebelum kompetisi resmi bergulir.
Bagi Roma, laga ini adalah ujian terakhir di Inggris setelah sebelumnya mereka menelan kekalahan mengejutkan 1-4 dari Cardiff City di Wales. Namun, tim asuhan Gasperini langsung bangkit dengan membantai Newport County 4-1 pada laga berikutnya. Kekalahan dan kemenangan itu menjadi bahan evaluasi penting bagi Gasperini, yang baru saja mengambil alih kursi pelatih dari Daniele De Rossi.
Gasperini, yang dikenal dengan gaya bermain agresif dan pressing tinggi, mencoba meramu formasi 3-4-2-1. Malen menjadi ujung tombak, didukung Dybala dan Soulé di belakangnya. Di lini tengah, Neil El Aynaoui dan Bryan Cristante berduet, sementara Wesley dan Devyne Rensch mengisi pos wing-back. Tiga bek tengah diisi Gianluca Mancini, Evan Ndicka, dan Mario Hermoso. Sementara itu, dua rekrutan anyar, Santiago Castro dan Konstantinos Koulierakis, masih harus puas duduk di bangku cadangan.
Di kubu tuan rumah, pelatih Fabian Hurzeler juga tidak setengah-setengah. Brighton menurunkan formasi 4-3-3 dengan Bart Verbruggen di bawah mistar, serta lini tengah yang dihuni Ayari, Hinshelwood, dan Gross. Di lini depan, trio Minteh, Kostoulas, dan Gomez diharapkan mampu merepotkan pertahanan Roma. Ini menjadi ajang pembuktian bagi Hurzeler yang baru saja menggantikan Roberto De Zerbi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini menarik untuk disimak karena menjadi indikator kekuatan Roma di bawah Gasperini. Dengan gaya bermain yang lebih direktif dan mengandalkan pressing, Roma diprediksi akan tampil lebih agresif musim ini. Kehadiran pemain seperti Soulé dan Malen yang masih muda juga menjadi daya tarik tersendiri, mengingat keduanya diharapkan menjadi bintang masa depan.
Selain itu, laga ini juga menjadi ajang pemanasan bagi para pemain yang akan tampil di kompetisi Eropa. Roma sendiri akan berlaga di Liga Europa musim ini, sementara Brighton juga akan tampil di kompetisi yang sama. Keduanya tentu ingin mengukur kekuatan lawan sebelum melangkah lebih jauh.
Pertanyaan besarnya, apakah Gasperini mampu mengembalikan kejayaan Roma yang sempat meredup? Dengan materi pemain yang ada, peluang itu terbuka lebar. Namun, konsistensi dan adaptasi terhadap filosofi baru akan menjadi kunci. Laga melawan Brighton ini menjadi salah satu batu loncatan untuk menjawab keraguan tersebut.



