Dari Desa Tanpa Lapangan ke Panggung Dunia: Kisah Pau Cubarsi, Bek Muda Spanyol yang Bersinar di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Pau Cubarsi, bek Spanyol berusia 19 tahun, telah mencatatkan debut impresif di Piala Dunia 2026 dengan dua clean sheet bersama La Roja.
- Berasal dari desa Estanyol yang hanya dihuni 200 jiwa, Cubarsi mengawali karier di klub lokal Vilablareix sebelum direkrut Girona dan akhirnya Barcelona.
- Rekan setim masa kecilnya mengingat Cubarsi sebagai pemain rendah hati di luar lapangan, namun garang dan vokal saat bertanding—kualitas yang membawanya ke 128 penampilan untuk Barcelona.

Pau Cubarsi, remaja 19 tahun yang kini menjadi pilar pertahanan Spanyol di Piala Dunia 2026, membuktikan bahwa mimpi bisa lahir dari desa yang bahkan tidak memiliki lapangan sepak bola. Dalam dua laga Grup H melawan Cabo Verde dan Arab Saudi, ia berhasil menjaga gawangnya tetap perawan—sebuah pencapaian yang mengukuhkan statusnya sebagai salah satu bek muda terbaik dunia.
Perjalanan Cubarsi dimulai di Estanyol, sebuah dusun di provinsi Girona, Catalonia, dengan populasi kurang dari 200 jiwa. Tanpa sekolah maupun lapangan sepak bola, ia harus menempuh pendidikan di desa tetangga, Vilablareix. Di sanalah orang tuanya, Robert dan Gloria, mendaftarkannya ke klub lokal. Bakatnya langsung menonjol: Jana Redondo, rekan setim masa kecil yang kini bermain untuk tim putri Girona, mengenang bagaimana Cubarsi kerap mengambil bola dari lini belakang lalu berlari sepanjang lapangan untuk mencetak gol. "Kami selalu juara liga berkat Pau," katanya.
Di Vilablareix, Cubarsi dikenang sebagai anak yang langka: saat menggiring bola, ia selalu mendongak dan mencari rekan, bukan menunduk. Ambisinya jelas—ia ingin bermain untuk Barcelona, dengan Lionel Messi dan Neymar sebagai idola. Namun, Redondo menekankan bahwa Cubarsi tidak pernah merasa lebih hebat dari teman-temannya. "Dia sangat rendah hati," ujarnya. "Kami sering menonton pertandingan Barcelona di rumahnya, dan sekarang saya bangga melihatnya di Piala Dunia."
Pada usia 11 tahun, Cubarsi bergabung dengan akademi Barcelona setelah sempat berlatih di Girona. Di sana ia bertemu Lamine Yamal dan Gibert Jordana, yang kini menjadi bek Girona. Jordana masih ingat betapa sulitnya melewati Cubarsi dalam latihan. "Hampir mustahil—kamu butuh dua lawan satu untuk mengalahkannya. Dia sangat vokal, seorang pemimpin, dan lebih gigih dibanding pemain seusianya," kenang Jordana. "Dia pendiam di luar lapangan, tapi berubah total begitu masuk ke dalam."
Menariknya, di luar sepak bola, Cubarsi ternyata tidak memiliki konsol game di rumah. "Dia hanya bisa main saat di rumah teman atau di turnamen. Dia yang paling jelek," kata Jordana sambil tertawa. Namun, kekurangan itu tidak menghalangi prestasinya. Kini, ia menjadi andalan Spanyol di turnamen paling bergengsi, dan Jordana yakin bahwa Cubarsi serta Yamal akan tampil gemilang. "Spanyol punya tim yang brilian, dan mereka adalah dua pemain kunci," pungkasnya.
Kisah Cubarsi mengingatkan pada perjalanan pemain Indonesia yang juga berasal dari daerah terpencil, seperti Pratama Arhan yang memulai dari Blora. Namun, perbedaan infrastruktur dan pembinaan usia dini masih menjadi tantangan. Dengan talenta seperti Cubarsi yang lahir dari desa tanpa lapangan, muncul pertanyaan: berapa banyak lagi potensi yang terpendam di pelosok Nusantara karena minimnya fasilitas?



