Pantai Gading Catat Sejarah: Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2026 Usai Bungkam Curacao 2-0
Baca dalam 60 detik
- Pantai Gading mengalahkan Curacao 2-0 di laga pamungkas Grup E Piala Dunia 2026, berkat dwigol Nicolas Pepe.
- Kemenangan ini mengantarkan Pantai Gading ke fase gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah, finis di peringkat kedua dengan enam poin.
- Jerman memuncaki Grup E dengan poin sama, sementara Curacao dan Ekuador tersingkir.

Pantai Gading menorehkan tinta emas dalam sejarah sepak bola Afrika dengan memastikan langkah ke babak gugur Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya, setelah menaklukkan Curacao dengan skor 2-0 di Lincoln Financial Field, Philadelphia, Jumat (26/6/2026). Dua gol dari Nicolas Pepe menjadi pembeda dalam pertandingan yang menentukan nasib kedua tim di Grup E.
Pepe, penyerang sayap Villarreal yang tengah dalam performa terbaik, membuka keunggulan pada menit ketujuh melalui penyelesaian klinis di dalam kotak penalti. Ia menggandakan keunggulan pada menit ke-64, memanfaatkan umpan silang yang gagal diantisipasi lini belakang Curacao. Kemenangan ini mengantarkan Pantai Gading mengoleksi enam poin dari tiga laga, sama dengan Jerman yang menjadi juara grup berkat selisih gol superior.
Bagi Curacao, kekalahan ini mengakhiri perjalanan perdana mereka di Piala Dunia dengan catatan satu poin hasil imbang kontra Ekuador. Tim asuhan Guus Hiddink gagal memanfaatkan momentum setelah tampil solid di laga sebelumnya. Sementara itu, Pantai Gading menunjukkan konsistensi yang patut diacungi jempol: setelah menekuk Ekuador 3-1 dan kalah tipis 1-2 dari Jerman, tim polesan Emerse Faé mampu bangkit di laga krusial.
Lolosnya Pantai Gading ke fase gugur menjadi sinyal positif bagi sepak bola Afrika. Sejak Kamerun mencapai perempat final pada 1990, hanya sedikit wakil Afrika yang mampu menembus babak 16 besar. Kini, Pantai Gading bergabung dengan Maroko (2022) sebagai tim Afrika yang mencatat sejarah serupa. Keberhasilan ini juga menegaskan kualitas generasi emas Pantai Gading yang diperkuat pemain-pemain seperti Franck Kessié, Sébastien Haller, dan tentu saja Nicolas Pepe.
Bagi Indonesia, pencapaian Pantai Gading bisa menjadi inspirasi. Timnas Garuda, yang tengah berjuang meningkatkan peringkat FIFA dan kualitas kompetisi domestik, dapat belajar dari konsistensi pembinaan pemain Pantai Gading. Negara Afrika Barat itu mampu melahirkan bakat-bakat kelas dunia secara berkelanjutan, sesuatu yang ingin dicapai Indonesia melalui program naturalisasi dan pembinaan usia dini. Pertanyaan besarnya: akankah Indonesia suatu hari nanti merasakan panggung Piala Dunia dan menorehkan cerita serupa?



