Dari Kasir Supermarket ke Piala Dunia: Kisah Dan Burn, Bek Tak Terlupakan Inggris
Baca dalam 60 detik
- Dan Burn, bek Newcastle yang kini masuk skuad Piala Dunia 2026, memulai karier internasionalnya dari tim amatir Clubs for Young People pada 2009 setelah dibuang Newcastle.
- Perjalanan Burn dari pekerja paruh waktu di supermarket hingga mencetak gol di final EFL Cup dan debut timnas Inggris dalam sepekan menunjukkan ketangguhan mental langka.
- Kisahnya menjadi inspirasi bagi pemain muda Indonesia yang kerap putus asa setelah gagal di akademi, membuktikan bahwa pintu lain selalu terbuka.

Dan Burn, bek tengah Newcastle United yang kini bersiap tampil di Piala Dunia 2026 bersama Timnas Inggris, memulai perjalanannya bukan dari akademi elite, melainkan dari lapangan sintetis Ferens Park di timur laut Inggris. Saat itu, tahun 2009, Burn baru berusia 17 tahun, bekerja paruh waktu di supermarket, dan telah dilepas Newcastle United Centre of Excellence. Namun, panggilan dari tim representatif Clubs for Young People (CYP) menjadi titik balik yang mengubah hidupnya.
Manajer tim CYP, Alan Watson, saat itu tengah merakit skuad terbaik pemain tanpa kontrak untuk turnamen antarnegara bagian. Burn, yang saat itu masih duduk di bangku sekolah menengah atas, berhasil memikat Watson dalam serangkaian seleksi. "Banyak anak muda yang dilepas, seperti Dan, tapi mereka tetap pemain bagus. Kami selalu bilang, 'Satu pintu tertutup, kami akan buka pintu lain. Kamu akan terpilih untuk Inggris'," kenang Watson.
Burn yang bertubuh jangkung dengan rambut pirang disorot segera berfoto bersama tim dalam seragam resmi Inggris edisi Euro 96. Di barisan depannya duduk Lewis Blissett, bek tengah lainnya yang kini bekerja di manajemen aset. Blissett hanya setengah bercanda menyebut bahwa menjadi duet Burn di lini belakang adalah "klaim ketenaran terbesarnya". Ia mengingat betul kemampuan teknis Burn yang luar biasa untuk ukuran pemain jangkung. "Dengan tinggi badannya, Anda kira dia hanya akan memenangkan bola udara, tapi dia sangat teknis. Kontrol bola dan umpannya sangat baik," ujar Blissett.
Namun, yang paling membekas bagi Blissett adalah mentalitas Burn. "Dia sangat tenang dan profesional. Saat teman-teman seusianya memilih keluar malam Sabtu, dia tetap fokus," katanya. Sifat itu juga diamati Andi Thanoj, rekan setim lainnya. "Dia selalu punya kepala yang kuat. Kami semua remaja, tapi dia tampak lebih dewasa dibanding kami," tambah Thanoj yang kemudian meraih kontrak profesional di Grimsby Town berkat turnamen itu.
Craig Liddle, yang saat itu menjabat kepala pengembangan muda Darlington, mendapat info dari Watson. "Dia bilang Dan mengingatkannya pada Tony Adams dan suatu hari akan bermain untuk Inggris. Itu pernyataan yang luar biasa," ungkap Liddle. Liddle terkesan dengan postur Burn, kenyamanannya menguasai bola, dan hasratnya untuk menang. Ia bahkan memerintahkan kepala rekrutmen akademi Les Wray untuk berbicara dengan orang tua Burn sebelum pertandingan CYP usai, karena khawatir ada klub lain yang mendahului.
Karier Burn terus menanjak. Ia pindah ke Fulham pada 2011, lalu ke Wigan dan Brighton, sebelum akhirnya kembali ke Newcastle United. Di klub masa kecilnya itu, ia menjadi pilar yang membawa tim lolos dari degradasi dan lolos ke Liga Champions pada 2023 dan 2025. Puncaknya, Burn mencetak gol pembuka saat Newcastle mengalahkan Liverpool di final EFL Cup, mengakhiri puasa gelar domestik selama 70 tahun. Seminggu kemudian, ia menjalani debut bersama Timnas Inggris dan kini menjadi bagian penting skuad asuhan Thomas Tuchel yang tengah membangun "persaudaraan".
Bagi Indonesia, kisah Burn menjadi pengingat bahwa kegagalan di akademi bukan akhir segalanya. Banyak pemain muda Indonesia yang putus asa setelah tidak lolos seleksi klub besar. Namun, perjalanan Burn membuktikan bahwa kerja keras, mental baja, dan kesempatan kedua bisa membawa seseorang ke panggung tertinggi. Pertanyaannya, apakah sistem pembinaan usia muda di Indonesia mampu meniru jejak CYP yang berani memberi kesempatan pada pemain-pemain yang terlewat?



