SRBI Berhasil Menyedot Rp105 Triliun Dana Asing: Sinyal Kepercayaan Investor Mulai Pulih?
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mencatat aliran modal asing masuk ke SRBI dan SBN mencapai Rp105 triliun hingga Juni 2026, menandai keberhasilan kebijakan suku bunga tinggi.
- Di tengah ketidakpastian global akibat perang Timur Tengah dan fenomena fly to quality, BI menawarkan imbal hasil kompetitif untuk menarik investor.
- Keberhasilan ini menjadi kunci stabilitas rupiah, namun tantangan dari penguatan dolar AS dan risiko outflow masih mengintai.

Di tengah tekanan global yang mendorong investor berlindung ke aset aman dolar AS, Bank Indonesia (BI) mencatat pencapaian signifikan: aliran dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp105 triliun hingga Juni 2026. Angka ini menjadi bukti bahwa strategi BI menaikkan suku bunga mulai membuahkan hasil.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa inflow bersih di SBN mulai terlihat sejak Juni, sementara SRBI yang diterbitkan BI telah menyerap dana asing sekitar Rp103-105 triliun. “Kita sudah melihat inflow masuk, baik di SBN maupun SRBI,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (23/6/2026).
Langkah BI ini merupakan respons terhadap fenomena fly to quality, di mana investor global memilih menyimpan dana di negara maju seperti AS akibat ketidakpastian perang Timur Tengah. Konflik yang melibatkan penutupan Selat Hormuz—jalur vital minyak dunia—telah mendorong harga minyak mentah di atas US$100 per barel dan memicu inflasi global. Akibatnya, dolar AS menguat dan indeks DXY melonjak di atas 100, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI merespons dengan menaikkan suku bunga acuan dan memberikan imbal hasil yang lebih atraktif pada instrumen rupiah. “Kebijakan menaikkan suku bunga adalah untuk menjaga stabilitas rupiah,” tegas Destry. Dengan imbal hasil SRBI tenor 6 bulan di kisaran 7,12%-8,00%, tenor 9 bulan 7,33%-8,10%, dan tenor 12 bulan 7,39%-8,25%, BI berharap investor asing melihat premi risiko yang memadai.
Bagi investor Indonesia, keberhasilan ini memberikan sinyal positif bahwa kebijakan moneter yang ketat mampu mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik. Namun, tantangan masih membayangi. Destry mengakui bahwa risiko capital outflow masih ada karena investor global cenderung menghindari risiko. “Mereka akan minta return yang lebih baik,” katanya. Dengan suku bunga global yang diperkirakan tetap tinggi, BI harus terus menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan daya saing instrumen investasi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah inflow ini akan berkelanjutan atau hanya bersifat sementara. Jika ketegangan geopolitik mereda dan harga minyak turun, tekanan terhadap rupiah bisa berkurang. Namun, jika konflik berkepanjangan, BI mungkin perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut—langkah yang berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik.



