XRP Terperosok ke $1,10: Izin MiCA Ripple Justru Picu Aksi Jual
Baca dalam 60 detik
- Harga XRP turun 0,76% ke $1,10 setelah pasar merespons negatif izin MiCA Ripple yang lebih fokus pada RLUSD stablecoin ketimbang XRP.
- Penarikan dana di Binance mencapai 53,8% dari total transaksi, tertinggi sejak Juni 2024, menandakan investor memindahkan aset dari bursa.
- RLUSD mengalami pembakaran 539 juta dolar AS dalam 30 hari, mengurangi likuiditas dan menekan prospek jangka pendek XRP.

Harga XRP ambles ke level $1,10 pada perdagangan Senin (23/6), merosot 0,76% dalam sehari, setelah pasar bereaksi dingin terhadap pencapaian regulasi Ripple di Uni Eropa. Alih-alih menjadi katalis positif, pengumuman izin penyedia jasa aset kripto (CASP) berdasarkan regulasi MiCA justru memicu aksi jual besar-besaran.
Ripple memang berhasil mendapatkan persetujuan awal untuk lisensi CASP dari regulator Uni Eropa pada 23 Juni. Namun, fokus pengumuman tersebut lebih banyak menyoroti RLUSD stablecoin dan infrastruktur pembayaran Ripple Payments, sementara XRP hanya disebut sebagai aset pendukung. Menurut analis pasar, ketiadaan katalis permintaan langsung bagi XRP membuat investor kecewa dan memilih keluar.
โRegulasi saja tidak cukup untuk mendorong harga; pasar butuh utilitas atau mekanisme permintaan yang jelas untuk token asli,โ demikian catatan analis yang dikutip dari laporan riset. Sentimen negatif ini diperparah oleh kondisi makro yang lemah, di mana kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turun 0,69%, dipicu aksi jual saham teknologi dan kekhawatiran sikap hawkish Federal Reserve.
Data on-chain menunjukkan tekanan jual semakin kuat. Transaksi penarikan di bursa Binance mencapai 53,8% pada 23 Juni, tertinggi dalam setahun terakhir, sementara rasio deposit turun ke 46,1%. Ini merupakan hari ketujuh berturut-turut dengan penarikan bersih. Menurut pengamat kripto, tren ini mengindikasikan bahwa pemegang XRP lebih memilih menyimpan aset di dompet pribadi ketimbang di bursa, yang bisa mengurangi tekanan jual jangka pendek namun juga mencerminkan kurangnya kepercayaan untuk bertransaksi.
Di sisi lain, stablecoin RLUSD milik Ripple mengalami pembakaran sebesar 539 juta dolar AS dalam 30 hari terakhir, mengurangi pasokan beredar. Langkah ini dinilai netral hingga bearish karena mengetatkan likuiditas di ekosistem Ripple. โPembakaran RLUSD mengurangi kapital yang bisa mengalir ke XRP, sehingga tidak memberikan dorongan positif,โ ujar seorang analis pasar.
Secara teknikal, XRP saat ini menguji support kritis di kisaran $1,09โ$1,10. Indikator RSI berada di angka 37,27, mendekati wilayah oversold. Jika level ini gagal dipertahankan, harga berpotensi turun ke $1,05. Namun, kondisi oversold juga membuka peluang rebound jangka pendek bila support bertahan.
Bagi investor Indonesia, pergerakan XRP ini relevan mengingat popularitas aset kripto di tanah air yang cukup tinggi. Regulasi domestik yang masih terus berkembang, termasuk pengawasan Bappebti, membuat pergerakan harga global seperti ini perlu dicermati. Jika tren penarikan dari bursa berlanjut, hal itu bisa memengaruhi likuiditas di platform lokal yang terhubung dengan Binance.
Ke depan, nasib XRP sangat bergantung pada apakah Ripple mampu menghadirkan utilitas nyata bagi tokennya, bukan sekadar pencapaian regulasi. Tanpa katalis permintaan yang kuat, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi dalam waktu dekat.



