Harga Minyak Terus Merosot, Lalu Lintas di Selat Hormuz Berangsur Normal
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI turun sekitar 0,9% setelah Oman mengumumkan koordinasi dengan IMO untuk koridor maritim sementara di Selat Hormuz.
- Traffic kapal tanker pulih ke 25% level sebelum konflik, didorong kesepakatan 14 poin AS-Iran yang membuka kembali jalur tersebut.
- Pernyataan Trump tentang inspeksi nuklir Iran dan cadangan minyak AS yang turun 765.000 barel memberi sinyal beragam pada pasar.

Harga minyak mentah global kembali tertekan pada Rabu (22/6) seiring meredanya ketegangan di Selat Hormuz, jalur energi paling vital dunia, yang perlahan kembali normal setelah kesepakatan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Brent crude ditutup di level 76,09 dolar AS per barel, turun 0,91 persen dari posisi sebelumnya 76,8 dolar AS. Sementara itu, patokan AS West Texas Intermediate (WTI) merosot 0,94 persen ke 72,52 dolar AS, dibandingkan 73,21 dolar AS pada sesi sebelumnya. Penurunan ini melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung beberapa hari terakhir.
Oman, yang berperan sebagai mediator, mengumumkan tengah berkoordinasi dengan Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk membentuk koridor maritim sementara yang terbuka bagi semua kapal. Pemerintah Oman juga menegaskan bahwa transit kapal melalui selat tersebut tetap gratis sesuai hukum maritim internasional. Langkah ini diambil setelah rangkaian pertemuan diplomatik intensif antara Washington dan Teheran.
Data dari firma analitik Kpler dan MarineTraffic menunjukkan bahwa lalu lintas tanker di Selat Hormuz berangsur pulih setelah kesepakatan 14 poin antara AS dan Iran yang mencakup pembukaan kembali jalur air tersebut. Sebanyak 172 kapal transit antara 18-22 Juni, dengan rata-rata harian 34 kapal. Meski baru seperempat dari level normal, pemulihan ini cukup signifikan untuk meredakan kekhawatiran pasokan.
Faktor lain yang membebani harga adalah pernyataan Presiden Donald Trump bahwa Iran telah setuju untuk menerima pengawasan ekstensif terhadap program nuklirnya. Dalam unggahan di media sosial, Trump menyebut Iran menyetujui "tingkat inspeksi nuklir tertinggi secara penuh dan lengkap." Namun, Trump juga memperingatkan bahwa negosiasi bisa gagal dan blokade maritim dapat diberlakukan kembali jika Iran tidak memenuhi komitmennya. Ancaman ini membatasi penurunan lebih lanjut karena pasar tetap waspada terhadap risiko gangguan pasokan.
Dari sisi fundamental, American Petroleum Institute (API) melaporkan penurunan cadangan minyak komersial AS sebesar 765.000 barel pekan lalu, mengindikasikan permintaan yang kuat di konsumen minyak terbesar dunia. Di sisi lain, ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat memangkas suku bunga dua kali sebelum akhir tahun turut menahan laju penurunan harga, karena biaya pinjaman yang lebih rendah diproyeksikan mendorong aktivitas ekonomi dan permintaan bahan bakar.
Bagi Indonesia, tren penurunan harga minyak ini membawa angin segar bagi anggaran subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Namun, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi risiko utama. Jika kesepakatan AS-Iran benar-benar solid, harga minyak berpotensi turun lebih dalam, meringankan beban impor migas nasional. Sebaliknya, jika negosiasi buntu, lonjakan harga bisa kembali terjadi, menguji ketahanan fiskal dan daya beli masyarakat.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan negosiasi nuklir Iran dan realisasi koridor maritim Oman. Apakah pemulihan lalu lintas Selat Hormuz akan berlanjut, atau justru menjadi jebakan sebelum ketegangan baru muncul? Jawabannya akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan mendatang.



