Merdeka Battery (MBMA) Rekrut Dua Direktur Baru, Fokus pada Disiplin Keuangan dan Operasional
Baca dalam 60 detik
- RUPST MBMA 2026 mengangkat James Nicholas sebagai CFO dan Ashutosh Srivastava Fausimm sebagai Direktur Operasional, menggantikan Anthony Kartono Tan yang mengundurkan diri.
- Sepanjang 2025, MBMA mencatat pendapatan US$1,435 miliar dan EBITDA US$219 juta, didorong produksi nikel dan operasi hilir yang efisien.
- Target produksi 2026 dinaikkan signifikan, termasuk bijih saprolit 8-10 juta wmt dan HGNM 44-48 ribu ton, seiring proyek HPAL SLNC yang mulai komisioning semester II-2026.

PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) resmi mengumumkan perubahan jajaran direksi setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026. Emiten pengolahan nikel pelat merah ini mengangkat dua direktur baru untuk memperkuat tata kelola keuangan dan operasional di tengah ekspansi bisnis yang agresif.
James Nicholas ditunjuk sebagai Chief Financial Officer (CFO), sementara Ashutosh Srivastava Fausimm mengisi posisi Direktur Operasional. Keduanya efektif menjabat sejak RUPST ditutup, menggantikan Anthony Kartono Tan yang mengundurkan diri. Manajemen MBMA menyampaikan apresiasi atas kontribusi Anthony selama menjabat.
Presiden Direktur MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo, menegaskan bahwa perombakan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. "Penguatan susunan direksi diharapkan dapat mendukung fokus MBMA pada disiplin keuangan, eksekusi operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang seiring pengembangan posisi perseroan dalam rantai nilai bahan baku baterai," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (24/6/2026).
RUPST juga menyetujui laporan tahunan dan laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025. Sepanjang tahun lalu, MBMA membukukan pendapatan sekitar US$1,435 miliar dan EBITDA US$219 juta. Kinerja ini ditopang oleh peningkatan volume produksi nikel, kontribusi lebih baik dari operasi hilir, serta disiplin biaya di seluruh rantai nilai. Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menjadi motor utama, dengan produksi bijih saprolit 7,0 juta wet metric tonnes (wmt) dan bijih limonit 14,7 juta wmt. Di sektor hilir, produksi Nickel Pig Iron (NPI) mencapai 73.871 ton, High-Grade Nickel Matte (HGNM) 19.998 ton, dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) 25.994 ton.
Memasuki 2026, MBMA menargetkan pertumbuhan signifikan di semua lini. Perusahaan menargetkan produksi bijih saprolit 8,0โ10,0 juta wmt dan bijih limonit 20,0โ25,0 juta wmt. Untuk hilir, target NPI 70.000โ80.000 ton dan HGNM 44.000โ48.000 ton. Cucu usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) ini juga terus memajukan proyek strategis, termasuk Feed Preparation Plant (FPP) yang sudah beroperasi untuk mengirimkan slurry limonit melalui pipa ke fasilitas HPAL milik PT ESG New Energy Material. Proyek HPAL SLNC berkapasitas 90.000 ton nikel per tahun masih on track, dengan komisioning lini pertama dijadwalkan pada semester kedua 2026.
Bagi investor dan pelaku industri di Indonesia, langkah MBMA ini menegaskan posisinya sebagai pemain kunci dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global. Dengan integrasi dari tambang hingga hilir, perusahaan berpotensi menikmati margin lebih tinggi seiring permintaan nikel yang terus meningkat. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga komoditas dan tekanan biaya energi tetap perlu diwaspadai. Ke depan, keberhasilan proyek HPAL dan kemampuan mempertahankan disiplin biaya akan menjadi penentu apakah MBMA bisa mempertahankan momentum pertumbuhannya di tengah persaingan ketat industri nikel nasional.



