Anggota Dewan Bank of Korea Peringatkan Risiko Utang Rumah Tangga dan Investasi Saham Berleverage
Baca dalam 60 detik
- Bank of Korea akan memperketat pemantauan stabilitas keuangan menyusul kenaikan harga rumah di Seoul dan lonjakan investasi saham berleverage.
- Anggota dewan Hwang Kun-il menyoroti potensi ketimpangan ekonomi yang dapat mengancam stabilitas sistem keuangan Korea Selatan.
- Rally saham berbasis AI mendorong investor ritel meminjam pada level rekor, meningkatkan kerentanan pasar modal.

Anggota Dewan Bank of Korea (BOK), Hwang Kun-il, menyatakan bank sentral akan meningkatkan pengawasan terhadap risiko stabilitas keuangan, terutama utang rumah tangga dan investasi saham yang dibiayai pinjaman. Pernyataan ini disampaikan dalam laporan stabilitas keuangan semi-tahunan yang dirilis pada Senin (24/6).
Hwang mengungkapkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan utang rumah tangga kembali meningkat seiring kenaikan harga rumah di kawasan Seoul dan meluasnya investasi aset berleverage. "Ada kekhawatiran bahwa pertumbuhan utang rumah tangga akan kembali naik karena harga rumah terus meningkat di area Seoul dan investasi aset berleverage tumbuh," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Selain itu, volatilitas di pasar keuangan dan valuta asing juga meningkat pada paruh pertama tahun ini. Hwang menekankan bahwa bank sentral perlu waspada terhadap kemungkinan meningkatnya ketimpangan yang dapat menjadi risiko stabilitas keuangan. "Ketimpangan yang semakin lebar bisa menjadi ancaman serius bagi stabilitas sistem keuangan," tambahnya.
Fenomena ini dipicu oleh rally saham berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mendorong investor ritel Korea Selatan melakukan investasi berisiko tinggi. Pinjaman untuk investasi saham oleh investor ritel mencapai level rekor, menambah tekanan pada sistem keuangan. Menurut analis, kondisi ini mengingatkan pada gelembung aset yang pernah terjadi sebelumnya, di mana kenaikan harga aset yang tidak diimbangi fundamental dapat berujung pada koreksi tajam.
Bagi Indonesia, situasi di Korea Selatan menjadi pelajaran berharga. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) perlu mencermati tren serupa, terutama dengan maraknya pinjaman online dan investasi saham ritel di dalam negeri. Meskipun skala dan karakteristik pasar berbeda, risiko utang rumah tangga dan investasi berleverage tetap relevan. Data Bank Indonesia menunjukkan rasio utang rumah tangga terhadap PDB Indonesia masih relatif rendah, namun pertumbuhan pinjaman investasi saham perlu diwaspadai.
Ke depan, kebijakan moneter dan makroprudensial di Korea Selatan akan menjadi sorotan. BOK diperkirakan akan mempertahankan sikap hati-hati, dengan kemungkinan menaikkan suku bunga atau memperketat persyaratan pinjaman untuk meredam gelembung aset. Pertanyaannya, apakah langkah tersebut cukup untuk mencegah krisis, atau justru akan memperlambat pertumbuhan ekonomi yang tengah didorong oleh sektor teknologi?



