Piala Dunia 2026: Eropa Dominan, Asia dan Afrika Tertatih di Babak Grup
Baca dalam 60 detik
- UEFA memimpin persentase kemenangan tertinggi (43,8%) setelah 24 laga pertama Piala Dunia 2026, dengan 7 kemenangan dari 16 wakilnya.
- Asia dan Afrika hanya mencatatkan dua kemenangan masing-masing, menandai penurunan performa dibanding edisi sebelumnya.
- Format baru 12 grup empat tim membuat persaingan antar konfederasi semakin ketat, dengan beberapa kejutan seperti hasil imbang Maroko melawan Brasil.

Babak grup Piala Dunia 2026 yang baru memainkan 24 pertandingan pertama telah menyajikan 75 gol dengan rata-rata 3,13 gol per laga. Format anyar dengan 12 grup berisi empat tim ini langsung menguji kedalaman skuat dan strategi setiap konfederasi. Dari data awal, Eropa tampil paling perkasa, sementara Asia dan Afrika justru kesulitan mempertahankan reputasi mereka.
UEFA, dengan 16 wakil terbanyak, mencatatkan tujuh kemenangan, enam hasil imbang, dan hanya tiga kekalahan. Persentase kemenangan 43,8% menjadi yang tertinggi di antara semua konfederasi. Jerman, Prancis, Inggris, dan Swedia menjadi beberapa tim yang meraih poin penuh. Namun, sejumlah raksasa seperti Spanyol, Portugal, dan Swiss justru harus puas berbagi angka. Satu-satunya laga internal Eropa, Inggris vs Kroasia, berakhir 4-2 untuk the Three Lions.
Kawasan Asia (AFC) memulai turnamen dengan gemilang melalui kemenangan Korea Selatan dan Australia, serta hasil imbang Qatar melawan Swiss. Namun, performa menurun drastis setelahnya. Dari sembilan wakil, hanya dua kemenangan dan empat hasil imbang yang diraih, dengan persentase kemenangan 22,2%. Irak, Yordania, dan Uzbekistan—dua di antaranya debutan—harus mengakui keunggulan lawan. Rata-rata poin per tim hanya 1,11, menjadikan Asia di posisi menengah bawah.
Afrika (CAF) justru mengalami kemunduran dibanding edisi Qatar 2022. Dari sepuluh wakil, baru dua kemenangan—keduanya lewat gol penentu di menit akhir, yakni Pantai Gading atas Ekuador dan Ghana atas Panama. Maroko, yang menjadi semifinalis sebelumnya, hanya mampu menahan imbang Brasil. Sementara Tunisia, setelah dihancurkan Swedia 5-1, langsung memecat pelatih Sabri Lamouchi. Rata-rata poin Afrika hanya 1,00, terendah kedua setelah Oseania.
Kawasan Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) mencatatkan hasil positif berkat tuan rumah bersama. Amerika Serikat dan Meksiko memenangi laga pembuka, sementara Kanada meraih hasil imbang bersejarah di Piala Dunia pertama mereka. Namun, Haiti dan Panama harus mengakui keunggulan lawan lewat gol telat, dan Curaçao dibantai Jerman. Persentase kemenangan CONCACAF 33,3% dengan rata-rata poin 1,17.
Amerika Selatan (CONMEBOL) justru tampil lamban di awal. Empat laga pertama tanpa kemenangan, termasuk hasil imbang Brasil melawan Maroko dan Uruguay melawan Arab Saudi. Baru setelah Argentina (hat-trick Lionel Messi) dan Colombia (Luis Diaz) turun gunung, CONMEBOL mengamankan dua kemenangan. Rata-rata poin per tim 1,33, cukup untuk menempatkan mereka di posisi ketiga.
Oseania (OFC) hanya diwakili Selandia Baru yang sukses menahan imbang Iran 2-2. Hasil ini menjadi hasil imbang keempat berturut-turut bagi Kiwi di Piala Dunia, dan mereka masih menunggu kemenangan perdana. Rata-rata poin 1,00 menjadi yang terendah, namun mengingat hanya satu wakil, capaian ini tetap patut diapresiasi.
Bagi Indonesia, performa Asia yang kurang meyakinkan menjadi pengingat bahwa persaingan di level tertinggi masih berat. Dengan format baru yang memberi lebih banyak peluang bagi tim non-unggulan, konsistensi dan daya gedor menjadi kunci. Pertanyaan selanjutnya: akankah Asia mampu bangkit di laga kedua, atau justru Eropa semakin menjauh?



