Terapi Langka Shaquille O'Neal Dipakai Nat Sciver-Brunt demi Piala Dunia T20
Baca dalam 60 detik
- Nat Sciver-Brunt menggunakan Magnetic Resonance Therapy (MBST), terapi elektromagnetik yang jarang dipakai, untuk mempercepat penyembuhan cedera betisnya.
- Metode yang juga pernah digunakan legenda NBA Shaquille O'Neal ini diharapkan membuatnya fit untuk semifinal Piala Dunia T20 pekan depan.
- Cedera betis menjadi momok bagi pemain kriket karena tuntutan gerakan eksplosif, dan waktu pemulihan yang singkat menjadi tantangan utama.

Kapten timnas kriket wanita Inggris, Nat Sciver-Brunt, memanfaatkan terapi elektromagnetik langka yang pernah dipakai legenda NBA Shaquille O'Neal demi bisa tampil di semifinal Piala Dunia T20 pekan depan. Cedera betis yang dideritanya sejak April lalu mengancam keikutsertaannya di turnamen paling bergengsi tersebut.
Sciver-Brunt, yang juga menjadi pemain kunci Inggris, mengalami cedera betis saat pertandingan domestik pada 29 April lalu. Meski awalnya disebut cedera ringan, masalah ini terus menghantuinya hingga membuatnya absen dalam beberapa seri internasional. Ia sempat kembali bermain di pemanasan Piala Dunia, namun keluhan kekencangan otot muncul lagi setelah laga melawan Irlandia sepuluh hari lalu.
Untuk mempercepat pemulihan, Sciver-Brunt menjalani Magnetic Resonance Therapy (MBST), sebuah terapi yang menggunakan medan elektromagnetik untuk merangsang penyembuhan sel. Alat ini mirip pemindai MRI kecil dan biasanya digunakan untuk mengobati radang sendi. Menariknya, Shaquille O'Neal, legenda NBA, pernah mengaku menggunakan terapi serupa untuk cedera-cederanya.
Fisioterapis Nick Worth menjelaskan bahwa terapi ini aman dan tidak menimbulkan efek samping, meskipun efektivitasnya sulit dipastikan secara definitif. "Medan elektromagnetik memengaruhi sel untuk memperbaiki diri secara alami, tanpa obat-obatan. Ini adalah opsi aman yang bisa memberikan sedikit keuntungan," ujarnya kepada BBC Sport. Namun, ia menekankan bahwa waktu adalah faktor paling krusial. "Otot perlu waktu untuk memperbaiki dan menguat. Jadwalnya ketat, terutama dengan riwayat cedera sebelumnya, tapi bukan tidak mungkin."
Cedera betis menjadi masalah umum dalam kriket karena gerakan eksplosif yang dibutuhkan, seperti lari dari posisi diam atau hentakan kaki depan saat melempar. Titik lemah berada di pertemuan antara otot betis dan tendon Achilles. Worth menambahkan bahwa sulit meniru kecepatan penuh dalam rehabilitasi, sehingga risiko cedera ulang cukup tinggi. "Sering kali pemain merasa sudah pulih, tapi saat kembali bertanding, cedera muncul lagi," katanya.
Bagi Indonesia, berita ini relevan mengingat popularitas kriket yang terus tumbuh di tanah air, terutama setelah Timnas Kriket Indonesia meraih medali emas di SEA Games 2023. Cedera betis juga kerap dialami atlet-atlet Indonesia, baik di kriket maupun cabang olahraga lain yang membutuhkan akselerasi mendadak. Penggunaan terapi MBST bisa menjadi alternatif yang patut dipertimbangkan oleh pelatih dan tenaga medis olahraga di Indonesia, meskipun biaya dan ketersediaan alat masih menjadi kendala.
Pertanyaan besarnya: akankah Sciver-Brunt cukup pulih untuk memimpin Inggris di semifinal? Ataukah cedera betis akan kembali menjadi mimpi buruk seperti yang dialami banyak pemain kriket sebelumnya? Keputusan akhir ada di tangan tim medis dan tentu saja, kondisi fisik sang kapten.



