Piala Dunia Tanpa Manolo: Ketika Drum Spanyol Bergema di Meksiko
Baca dalam 60 detik
- Manuel Caceres, superfan legendaris Spanyol yang dikenal dengan drumnya, meninggal tahun lalu dan Piala Dunia 2026 menjadi turnamen pertama tanpa kehadirannya.
- Sekelompok suporter Spanyol membawa drum baru ke Meksiko untuk meneruskan warisan Manolo, yang dianggap sebagai simbol semangat La Roja.
- Warisan Manolo tetap hidup di jalanan Guadalajara, di mana suporter kerap dipanggil 'Manolo' oleh warga lokal saat membawa drum.

Piala Dunia 2026 di Meksiko menjadi saksi bisu kepergian salah satu ikon suporter paling legendaris: Manolo el del Bombo. Manuel Caceres, pria berusia 76 tahun yang menghabiskan puluhan tahun memukul drum di setiap pertandingan Spanyol, meninggal pada Mei tahun lalu. Kini, di Guadalajara, suporter Spanyol berusaha menjaga denyut ritme yang pernah ia ciptakan.
Spanyol menekuk Uruguay 1-0 pada Jumat lalu untuk memuncaki Grup H dan melaju ke fase gugur. Namun, euforia kemenangan itu dibayangi rasa kehilangan. “Ini Piala Dunia pertama tanpa dia,” ujar Pablo Munoz, suporter Spanyol yang hadir di stadion. “Tentu saja dia dirindukan, karena dia adalah suporter paling legendaris, paling dikenal.”
Manolo, yang mulai dikenal sejak Piala Dunia 1982, telah menghadiri 10 edisi turnamen. Ia sempat bercita-cita tampil di 12 Piala Dunia, namun gagal ke Qatar 2022 karena kesehatannya memburuk. “Target saya pensiun setelah 12 Piala Dunia, saat usia 77 tahun, jika Spanyol lolos terus,” katanya dalam wawancara dengan Reuters pada 2006. “Saya akan tetap di sana, meski harus pakai tongkat.”
Kepergian Manolo meninggalkan kekosongan yang tak mudah diisi. Namun, sekelompok suporter dari Marea Roja dan Furia Española membawa drum baru untuk meneruskan tradisi. Sete Fernandez, yang menjuluki dirinya “Terompet Spanyol”, menegaskan, “Kami tidak bicara soal penerus, melainkan melanjutkan warisannya. Saya tidak akan pernah menjadi pewaris Manolo, karena dia unik.”
Di jalanan Guadalajara, warisan Manolo telah diakui secara spontan. “Orang-orang melihat kami di jalan dan memanggil ‘Manolo’, karena ketika mereka melihat drum, mereka berteriak ‘Manolo, Manolo’,” kata Fernandez. “Itu pertanda baik bahwa simbol Manolo tetap hidup.”
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Manolo mengingatkan pada figur suporter ikonik seperti La Pora dari Timnas Indonesia atau suporter setia klub-klub lokal. Dedikasi tanpa pamrih semacam ini menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan sekadar pertandingan, melainkan juga ritme komunitas yang melampaui generasi. Di tengah komersialisasi olahraga, loyalitas seperti Manolo adalah aset langka yang patut dirawat.
Fernandez bertekad mengikuti Spanyol ke mana pun mereka bermain, baik di Guadalajara, Miami, atau kota lain. “Kami akan mengikuti Spanyol dan membawa warisan Manolo ke mana pun diperlukan,” ujarnya. Pertanyaannya, mampukah generasi baru suporter Spanyol mempertahankan semangat yang sama tanpa kehadiran fisik sang maestro drum?



