Kaus Maradona Rp144 Miliar: Misteri Asal-usul dari Pasar Tepito yang Terkuak
Baca dalam 60 detik
- Kaus biru legendaris Diego Maradona yang terjual Rp144 miliar diduga dibuat darurat di pasar loak Meksiko dalam dua hari.
- Film dokumenter baru mengungkap peran pedagang kaki lima Tepito yang menjahit sendiri badge dan nomor ala American football.
- Kisah ini menjadi simbol perlawanan terhadap komersialisasi sepak bola dan pengakuan atas kontribusi rakyat kecil.

Kaus biru yang dikenakan Diego Maradona saat mencetak "Gol Abad Ini" dan "Tangan Tuhan" pada Piala Dunia 1986 ternyata memiliki asal-usul yang jauh dari gemerlap stadion. Sebuah film dokumenter berjudul El Diez: Made in Tepito mengungkap bahwa jersey legendaris yang baru saja terjual seharga US$9,28 juta (sekitar Rp144 miliar) itu kemungkinan besar dibuat secara darurat di pasar gelap Mexico City.
Kisahnya bermula ketika Argentina harus bertanding melawan Inggris di perempat final setelah sebelumnya bertukar kaus dengan Uruguay. Tim asuhan Carlos Bilardo mendadak kehabisan seragam biru cadangan dan hanya punya waktu dua hari untuk mendapatkannya. Kiper Hector Miguel Zelada, yang saat itu bermain untuk Club America, menyarankan untuk mencari ke pasar Tepito—pusat perdagangan informal yang terkenal bisa menyediakan apa pun.
Menurut penuturan pembuat film Phidel McCabe, para pedagang di Tepito bekerja cepat. Mereka menjahit sendiri badge Asosiasi Sepak Bola Argentina dan menempelkan nomor pemain menggunakan bahan glitter khas seragam American football. "Semua terasa seperti hanya mungkin terjadi di era 80-an," ujar McCabe dalam wawancaranya dengan Reuters.
Namun, kebenaran cerita ini masih diselimuti misteri. Bahkan di Mexico City sendiri, banyak warga yang meragukan apakah kaus itu benar-benar berasal dari Tepito. "Justru keraguan itulah yang membuat saya semakin bersemangat untuk mencari kebenaran," kata McCabe. Dokumenternya mewawancarai sejumlah saksi kunci, termasuk Zelada yang pertama kali mengusulkan ide tersebut.
Bagi McCabe, kisah ini bukan sekadar tentang Maradona, melainkan tentang para pekerja informal yang karyanya justru menjadi bagian dari sejarah sepak bola. "Saya merasa penting bagi Meksiko untuk merayakan perannya dalam dua gol ikonik itu. Mereka adalah bagian dari budaya dan sejarah Tepito," tegasnya.
Seniman Zapotec, Ana Xhopa, turut merayakan narasi ini dengan melukis mural di pusat kota Mexico City. "Cerita ini menarik perhatian saya, terutama fakta bahwa tim nasional menang di ajang internasional dengan jersey 'bajakan'," ujarnya. Xhopa ingin membuat para pedagang kecil dan perlawanan warga Tepito terlihat—"Ini bukan hanya FIFA, ini juga perdagangan lokal; ini kami, orang Meksiko."
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan bahwa di balik gemerlap Piala Dunia terdapat kerja keras dan kreativitas rakyat biasa. Di tengah maraknya merchandise resmi dan komersialisasi olahraga, cerita kaus Maradona menjadi bukti bahwa sepak bola tetap milik semua orang—termasuk mereka yang berjualan di pinggir jalan. Pertanyaannya, berapa banyak lagi artefak sepak bola legendaris yang lahir dari tangan-tangan tak dikenal?



