Suku Bunga Global Tinggi Lebih Lama: BI Siapkan Bantalan untuk Rupiah
Baca dalam 60 detik
- Bank sentral global beralih ke kebijakan suku bunga tinggi jangka panjang akibat ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak.
- Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan 100 bps dalam sebulan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah penguatan dolar AS.
- Investor asing diperkirakan akan kembali tertarik pada instrumen rupiah jika imbal hasil tetap kompetitif, meski BI belum akan menurunkan suku bunga.

Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin dalam satu bulan terakhir, merespons perubahan arah kebijakan moneter global yang kini memasuki era suku bunga tinggi berkepanjangan—fenomena yang dikenal sebagai higher for longer. Keputusan ini diambil di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang melemah akibat penguatan dolar Amerika Serikat, dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia.
Deputi Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa hampir semua mata uang negara berkembang mengalami pelemahan terhadap dolar AS. “Kita lihat memang untuk nilai tukar, hampir semua negara juga mengalami pelemahan nilai tukar, karena saat ini yang terjadi adalah kita menghadapi situasi di global, istilahnya adalah higher for longer,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (24/6/2026). Kondisi ini diperparah oleh penutupan Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia—yang mendorong harga minyak mentah menembus US$100 per barel dan memicu ekspektasi inflasi global yang lebih tinggi.
Menurut Destry, kenaikan suku bunga BI bertujuan untuk meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik bagi investor asing. “Kita berharap tentunya dengan suku bunga yang meningkat, itu akan meningkatkan daya tarik dari instrumen rupiah kita bagi offshore investor atau investor asing,” imbuhnya. Namun, ia menegaskan bahwa BI belum akan mempertimbangkan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. “Kita jangan bicara dulu untuk BI Rate-nya turun, enggak,” tegasnya.
Di sisi lain, bank sentral Amerika Serikat, The Fed, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkannya lagi tahun ini. Sikap hawkish The Fed ini mendorong investor global untuk memarkir dananya di aset dolar AS, memperkuat greenback dan menekan mata uang lain, termasuk rupiah. Destry menambahkan, “Market melihat The Fed akan mempertahankan ataupun posisi suku bunga tinggi itu akan bertahan dan bahkan diperkirakan akan meningkat di tahun ini.”
Bagi Indonesia, era higher for longer membawa implikasi ganda. Di satu sisi, kebijakan moneter yang ketat diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi impor. Namun, suku bunga yang tinggi juga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik karena meningkatnya biaya pinjaman. Para analis memperkirakan BI akan terus mempertahankan sikap prudent dengan memonitor pergerakan nilai tukar dan aliran modal asing. “Kita harus mempertahankan daya tarik dari instrumen keuangan kita,” ujar Destry, mengisyaratkan bahwa BI siap melakukan intervensi lebih lanjut jika diperlukan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa lama BI dapat bertahan dengan suku bunga tinggi tanpa mengorbankan momentum pemulihan ekonomi. Jika tekanan eksternal mereda—misalnya melalui gencatan senjata di Timur Tengah atau stabilisasi harga minyak—BI mungkin memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan. Namun, selama ketidakpastian global masih tinggi, rupiah dan instrumen keuangan Indonesia harus tetap bersaing dalam lingkungan suku bunga yang ketat.



