Data Pabrik iPhone di India Bocor: Rahasia Apple dan Tesla Terkuak
Baca dalam 60 detik
- Kelompok ransomware World Leaks mengklaim telah membocorkan lebih dari 200.000 file milik Tata Electronics, pemasok utama Apple dan Tesla di India.
- Dokumen yang bocor mencakup spesifikasi komponen iPhone, rahasia dagang Tesla, serta data pribadi karyawan, mengancam rantai pasok global.
- Serangan ini menjadi ujian bagi ambisi India menjadi pusat manufaktur elektronik, sekaligus mengingatkan kerentanan keamanan siber di era digital.

Serangan siber terhadap Tata Electronics, pemasok utama komponen iPhone dan suku cadang Tesla, mengungkap kerentanan rantai pasok global setelah lebih dari 200.000 file diduga dicuri dan dipublikasikan di dark web. Insiden ini tidak hanya mengancam rahasia dagang dua raksasa teknologi, tetapi juga menjadi pukulan bagi ambisi India menjadi pusat manufaktur elektronik.
Kelompok ransomware World Leaks, yang sebelumnya mengaku bertanggung jawab atas peretasan Nike, mengklaim telah membobol sistem Tata Electronics beberapa pekan lalu. Data yang bocor, menurut peneliti keamanan, mencakup dokumen desain komponen Apple dan Tesla, termasuk spesifikasi material, standar inspeksi kualitas papan sirkuit iPhone sepanjang 52 halaman, serta gambar rahasia proyek Highlandโnama kode untuk Tesla Model 3 yang diperbarui. Selain itu, terdapat pula folder bertajuk "NV36 Chargeport Controller - North America" yang merujuk pada komponen pengisi daya untuk Tesla Model Y.
Peneliti keamanan siber India, Rajshekhar Rajaharia, yang meninjau file-file tersebut, menemukan bahwa data yang bocor juga mencakup surel internal, log peristiwa selama beberapa tahun, dan salinan paspor karyawan, termasuk warga negara asing. "Ini adalah pelanggaran serius yang tidak hanya mengekspos rahasia komersial, tetapi juga data pribadi," ujarnya. Sementara itu, peneliti lain, Rakesh Krishnan, mengatakan bahwa data tersebut telah dapat diakses di dark web sejak setidaknya 10 Juni.
Tata Electronics telah mengonfirmasi insiden ini dan menyatakan bahwa operasi bisnis tidak terganggu. Namun, sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa Apple sedang melakukan investigasi penuh dan Tata telah menerima permintaan tebusan. Baik Apple maupun Tata menolak berkomentar lebih lanjut. Pemerintah India melalui Indian Computer Emergency Response Team (CERT-In) belum memberikan tanggapan resmi.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya keamanan siber dalam rantai pasok global. Dengan semakin banyaknya perusahaan Indonesia yang menjadi pemasok bagi merek internasional, perlindungan data menjadi krusial. Serangan terhadap Tata Electronics menunjukkan bahwa bahkan perusahaan besar dengan sistem keamanan canggih pun rentan. Regulator di Indonesia, seperti Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), perlu memperkuat pengawasan dan mendorong adopsi standar keamanan siber yang ketat di sektor manufaktur.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Apple dan Tesla akan tetap mempertahankan Tata sebagai mitra manufaktur utama, atau justru akan mencari alternatif di negara lain. Serangan ini juga menyoroti perlunya diversifikasi rantai pasok dan investasi lebih besar dalam keamanan siber, terutama di tengah meningkatnya ancaman ransomware yang semakin canggih. Jika tidak ditangani dengan serius, insiden serupa dapat menggerus kepercayaan investor dan memperlambat ambisi India menjadi pusat manufaktur global.



