Piala Dunia 2026: Rekor Penonton di Tengah Harga Tiket Selangit dan Pembatasan Trump
Baca dalam 60 detik
- Kehadiran penonton Piala Dunia 2026 di AS diprediksi memecahkan rekor, dengan rata-rata stadion terisi 99,6% meski harga tiket termahal dalam sejarah.
- Para ahli menilai antusiasme ini lebih didorong oleh kecintaan warga AS terhadap acara spektakuler, bukan karena popularitas sepak bola yang masih kalah dari liga Meksiko.
- FIFA memperkirakan pendapatan dari tiket dan hak perhotelan melampaui 3 miliar dolar AS, namun potensi itu bisa lebih besar jika tak ada hambatan perjalanan akibat kebijakan imigrasi.

Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat berhasil menarik lebih dari 2,85 juta penonton dalam 44 pertandingan pertama, dengan tingkat kepadatan stadion mencapai 99,6 persen. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun harga tiket melambung tinggi dan kebijakan imigrasi Presiden Donald Trump membatasi perjalanan warga negara tertentu, animo masyarakat tetap luar biasa. Menurut analis, fenomena ini lebih mencerminkan kecintaan warga AS terhadap tontonan kelas dunia ketimbang minat mendalam terhadap sepak bola.
Rekor kehadiran tertinggi sebelumnya terjadi pada Piala Dunia 1994, juga di AS, dengan total 3,5 juta penonton. Edisi kali ini, dengan jumlah pertandingan meningkat dari 64 menjadi 104, diprediksi akan melampaui angka tersebut jauh sebelum laga ke-64 digelar. Stadion-stadion raksasa seperti MetLife Stadium dan SoFi Stadium menjadi salah satu faktor pendorong, namun yang lebih penting adalah kebiasaan warga AS untuk tidak melewatkan momen besar. "Orang Amerika ingin hadir di momen-momen penting," ujar Dan Rascher, pakar ekonomi olahraga dari University of San Francisco.
Namun, di balik gemerlapnya angka, terdapat kritik tajam terhadap FIFA. Untuk pertama kalinya, FIFA menerapkan model harga dinamis yang menyesuaikan harga tiket berdasarkan permintaan. Akibatnya, tiket untuk pertandingan tertentu menjadi sangat mahal. Di pasar sekunder, harga rata-rata tiket termurah mencapai 798 dolar AS. Kebijakan ini, ditambah keputusan FIFA memberikan penghargaan perdamaian kepada Trump pada Desember lalu, menuai kecaman. Pembatasan perjalanan Trump dinilai menghalangi penggemar dari Haiti, Iran, Senegal, dan negara lain untuk hadir.
Meski demikian, para penggemar domestik tetap memadati stadion. John Grady, profesor manajemen olahraga dari University of South Carolina, mengatakan bahwa konsumen AS bersedia membayar mahal untuk acara premium. Ini sejalan dengan tren belanja masyarakat AS yang tetap royal pada barang-barang glamor meskipun sentimen konsumen rendah. Mereka cenderung mengimbangi pengeluaran besar dengan berhemat pada kebutuhan sehari-hari.
Menariknya, kecintaan terhadap Piala Dunia tidak serta merta meningkatkan popularitas sepak bola domestik. Laporan Nielsen menunjukkan bahwa lebih banyak warga AS menonton Liga MX Meksiko dibandingkan Major League Soccer (MLS) Amerika. "Kami selalu berpikir Piala Dunia akan mendongkrak rating MLS, tapi sejauh ini belum terjadi," kata Rascher. Daya tarik individu seperti Lionel Messi dan Kylian Mbappe memang mampu menarik ribuan penggemar, namun itu belum cukup untuk mengubah kebiasaan menonton.
Dari sisi pendapatan, FIFA memperkirakan meraup lebih dari 3 miliar dolar AS dari penjualan tiket dan hak perhotelan. Victor Matheson, ekonom dari College of the Holy Cross, bahkan memperkirakan angka itu bisa mencapai 4 miliar dolar AS. Sebagai perbandingan, pendapatan serupa pada 2022 hanya 949 juta dolar AS, dan 712 juta dolar AS pada 2018. Namun, potensi itu bisa lebih besar jika tidak ada hambatan perjalanan. Kunjungan wisatawan internasional ke AS turun 5,7 persen tahun lalu, sebagian karena kebijakan imigrasi dan sentimen anti-AS di luar negeri.
FIFA fan festival, yang merupakan pesta nonton bersama dengan makanan dan hiburan, mencatat 7,7 juta kunjungan selama Piala Dunia 2018 di Rusia dan 5,5 juta pada 2014 di Brasil. Tahun ini, festival serupa juga berjalan sukses. Perusahaan seperti Walmart dan Goya, serta kota-kota tuan rumah, menggelar acara paralel. San Jose, misalnya, mengadakan pesta nonton harian bersama klub MLS Earthquakes.
Keberhasilan Piala Dunia ini menjadi pertanda baik bagi Olimpiade Musim Panas 2028 di Los Angeles. "Ini menunjukkan bahwa AS bisa mengadakan pesta yang baik," kata Grady. Pertanyaannya, apakah antusiasme ini akan bertahan setelah lampu stadion padam, atau hanya sekadar euforia sesaat?



