Milly Alcock: Supergirl Bukan Lagi Pahlawan Romantis, Tapi Cermin Perempuan Modern
Baca dalam 60 detik
- Aktris Milly Alcock menegaskan bahwa Supergirl versi barunya tidak berpusat pada kisah cinta, melainkan kekuatan dan ketangguhan perempuan masa kini.
- Sutradara Craig Gillespie sengaja menghindari referensi film Supergirl 1984 demi kebebasan kreatif, dan justru terinspirasi dari komik Tom King.
- Kostum Supergirl menggunakan bahan jubah yang sama dengan film Superman 1978 sebagai penghormatan kepada Christopher Reeve.

Milly Alcock, aktris berusia 26 tahun yang memerankan Kara Zor-El alias Supergirl dalam jagat sinema DC terbaru, menyebut karakternya sebagai representasi ideal perempuan modern. Menurutnya, Supergirl tidak lagi terjebak dalam narasi romantis, melainkan menonjolkan ketangguhan dan kompleksitas yang relevan dengan tantangan perempuan masa kini.
Dalam wawancara dengan Variety, Alcock mengungkapkan bahwa banyak penggemar, terutama dari komunitas LGBTQ+, merasa terhubung dengan Supergirl. Ia menilai karakter tersebut mampu menjadi simbol ketahanan—nilai yang juga melekat pada komunitas tersebut. “Dia bisa kuat, tangguh, dan juga berantakan. Saya suka film ini tidak berfokus pada cinta atau romansa sama sekali,” ujar Alcock. Pernyataan ini menjadi angin segar di tengah dominasi plot percintaan dalam film pahlawan super sebelumnya.
Sutradara Craig Gillespie, yang sebelumnya dikenal lewat I, Tonya dan Cruella, mengaku sengaja tidak menengok film Supergirl tahun 1984. Ia khawatir referensi tersebut justru membatasi eksplorasi kreatif. “Saya ingin menciptakan dunia yang lahir dari karakter, bukan dari bayang-bayang film lama,” jelas Gillespie. Sebagai gantinya, ia justru terinspirasi dari komik Supergirl: Woman of Tomorrow karya Tom King yang dirilis 2021.
Tom King, yang kini menjadi konsultan untuk lebih dari belasan proyek DC Studios, memuji Supergirl sebagai karakter yang unik. “Dia adalah orang luar, tidak langsung diterima dunia, dan membawa beban masa lalu. Saya mencuri sifat itu dari putri saya,” kata King. Baginya, melihat karakter tersebut diterima luas adalah pencapaian yang berarti.
Di sisi lain, Alcock juga mengaku antusias bisa memberikan penghormatan kepada Christopher Reeve, aktor legendaris Superman. Kostum Supergirl menggunakan bahan jubah yang sama dengan yang dipakai Reeve pada 1978. “Sungguh menarik bisa membawa bagian dari warisan ini ke film baru. Itu detail indah dari perancang kostum kami, Anna,” tutur Alcock kepada Extra.
Bagi penonton Indonesia, kehadiran Supergirl versi baru ini bisa menjadi cermin pergeseran nilai dalam industri hiburan global. Alih-alih mengandalkan stereotip pahlawan yang sempurna, film ini menawarkan figur yang lebih manusiawi dan relevan dengan isu kesetaraan gender. Pertanyaannya, mampukah pendekatan ini menggaet pasar Asia Tenggara yang selama ini akrab dengan drama romantis? Atau justru keberanian ini akan menjadi formula baru yang ditiru?



