Naira Terperosok ke N1.370 per Dolar AS, Pembayaran Internasional Menggerus Volume Valas
Baca dalam 60 detik
- Naira melemah ke N1.370,6 per dolar AS di pasar resmi karena lonjakan pembayaran internasional mengalahkan volume dolar yang tersedia.
- Intervensi bank sentral yang melambat dan penguatan dolar global turut menekan mata uang Nigeria, meski cadangan devisa naik tipis ke $51,14 miliar.
- Kenaikan harga minyak dan produksi yang lebih tinggi diharapkan menopang cadangan, tetapi ketidakpastian negosiasi AS-Iran tentang Selat Hormuz membayangi prospek.

Naira Nigeria kembali terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat di pasar valuta asing resmi pada Selasa (11/3), tertekan oleh derasnya pembayaran internasional yang menggerus likuiditas di jendela resmi bank sentral. Nilai tukar spot melemah dari N1.369,16 per dolar pada Senin menjadi N1.370,64, menandai hari kedua berturut-turut mata uang Afrika Barat itu berada di bawah tekanan.
Sepanjang hari perdagangan, naira bergerak dalam kisaran N1.365 hingga N1.375 per dolar, mengindikasikan bahwa arus keluar valas untuk pembayaran luar negeri melampaui volume dolar yang masuk. Kondisi ini diperparah oleh melambatnya intervensi langsung Bank Sentral Nigeria (CBN) di pasar, yang biasanya menjadi penyangga utama stabilitas naira. Para analis menilai bahwa pelemahan ini juga dipicu oleh penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi multi-tahun, mendorong investor global beralih ke aset safe-haven.
Meskipun demikian, data harian CBN menunjukkan adanya peningkatan likuiditas valas, dengan volume transaksi antar bank melonjak 92% menjadi $125,31 juta dari $65,21 juta pada hari sebelumnya. Lonjakan ini mencerminkan aktivitas pasar yang lebih tinggi dan kepercayaan investor yang mulai pulih, namun belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari sisi permintaan.
Di sisi fundamental, cadangan devisa Nigeria terus menunjukkan tren positif, mencapai $51,14 miliar pada Selasa, naik tipis dari $51,06 miliar sehari sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh harga minyak yang masih tinggi dan peningkatan produksi minyak mentah, yang memberikan windfall fiskal bagi pemerintah. Namun, para analis memperingatkan bahwa ketergantungan pada minyak membuat Nigeria rentan terhadap gejolak harga global. Harga minyak Brent hari ini turun 0,3% menjadi $77,70 per barel, memperpanjang penurunan setelah aksi jual tajam pada Senin, saat Amerika Serikat memberikan keringanan sanksi 60 hari kepada Iran setelah pembicaraan awal.
Bagi Indonesia, pergerakan naira Nigeria menjadi pengingat akan kerentanan negara-negara emerging market terhadap arus modal global dan tekanan dolar. Meski Indonesia memiliki fundamental yang lebih kuat dengan cadangan devisa di atas $140 miliar, fluktuasi naira dapat berdampak pada persepsi risiko terhadap mata uang Asia, terutama jika tekanan dolar berlanjut. Selain itu, kenaikan harga minyak yang menopang cadangan Nigeria juga berdampak positif bagi Indonesia sebagai importir minyak, namun ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah CBN akan kembali menggenjot intervensi untuk menahan pelemahan naira, atau membiarkan mekanisme pasar bekerja. Sementara itu, perkembangan negosiasi AS-Iran mengenai Selat Hormuz akan menjadi kunci bagi stabilitas harga minyak dan, pada gilirannya, cadangan devisa Nigeria. Pertanyaannya, mampukah naira bertahan di kisaran N1.370 tanpa tekanan lebih lanjut, atau akankah faktor eksternal mendorongnya menembus level psikologis N1.400?



