Putus Sekolah Dua Kali, Perempuan 21 Tahun Ini Raup Pendapatan Puluhan Juta dari Studio Lukis Neon
Baca dalam 60 detik
- Merida Lim, yang keluar dari program elite dan NAFA, mengubah studio seni horornya yang nyaris bangkrut menjadi bisnis lukis neon yang menguntungkan.
- Dengan modal awal sekitar S$34.000, Scuro kini meraup pendapatan lima digit per bulan dan telah melayani lebih dari 1.000 pesta pribadi.
- Ekspansi ke Kuala Lumpur dan pengembangan cat fluoresen proprietary menjadi langkah berikutnya, menunjukkan potensi pasar seni pengalaman yang terus tumbuh.

Di usia 21 tahun, Merida Lim membuktikan bahwa kegagalan akademis bukan akhir segalanya. Perempuan asal Singapura ini, yang dua kali putus sekolah, kini mengelola studio seni lukis neon yang bukunya penuh hampir setiap akhir pekan untuk pesta anak-anak. Pendapatan bulanannya mencapai lima digit dolar Singapura, sebuah pencapaian yang kontras dengan masa lalunya yang penuh kecemasan.
Lim pernah duduk di bangku sekolah elite dengan program enam tahun terpadu (IP), namun serangan panik yang dialaminya membuatnya sering dikirim ke kantor guru. Ia bahkan menjalani konseling dan terapi. Pelariannya adalah menggambar hal-hal mengerikanโkanvas hitam merah, wanita berlumuran darahโyang menurutnya seperti "ruang kemarahan" melalui seni. Pada usia 16 tahun, ia keluar dari sekolah tanpa ijazah O-Level, hanya berbekal sertifikat PSLE. Ia kemudian mencoba kuliah desain grafis di NAFA, tetapi kembali berhenti di tahun kedua.
Keputusan berani diambil pada Oktober 2024. Dengan tabungan pribadi S$10.000 dari kerja paruh waktu dan pinjaman S$24.000 dari sang ayah, Lim membuka Scuro, studio seni bertema horor di Kampong Bahru. Awalnya, bisnisnya sempat mulus karena bertepatan dengan Halloween. Namun, bulan kedua pemesanan merosot lebih dari 50 persen. "Saya sempat berpikir studio ini akan bangkrut," ujarnya. Ia bahkan sudah memberi tahu pacar dan teman-temannya untuk mencari pekerjaan, dan meminta pemilik gedung mencari penyewa baru.
Alih-alih menyerah, Lim mencoba strategi baru. Ia membuat video TikTok yang mengungkap situasi kritisnya dan menantang dirinya untuk mendapatkan S$6.000 dalam 50 hari. Ia juga bereksperimen dengan konsep baru: neon art jam, lukis dengan cat berpendar yang menyala di bawah sinar UV. Konsep ini ternyata disukai anak-anak, dan dengan cepat Scuro bertransformasi menjadi studio ramah keluarga. Dinding yang dilukis tangan dengan hutan dan jamur, ditambah pencahayaan neon, menciptakan suasana magis yang menarik minat orang tua.
Kesuksesan ini tidak lepas dari dukungan sang ayah, seorang pengusaha aplikasi, dan kemudian hadirnya co-founder serta investor berpengalaman pada awal 2025. Mereka menerapkan kebijakan seperti minimum pembelian untuk pesta dan tim administrasi lepas pantai untuk mempercepat respons. Hasilnya, Scuro kini memiliki dua studio, mempekerjakan 20 karyawan paruh waktu, dan telah menyelenggarakan lebih dari 1.000 pesta pribadi, termasuk acara korporat. Pendapatan bulanan tumbuh hingga lima digit, dan akhir pekan selalu penuh.
Kisah Lim menyoroti tren ekonomi pengalaman yang berkembang, terutama di kalangan orang tua yang mencari kegiatan kreatif untuk anak-anak. Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat dengan munculnya berbagai studio lukis dan kerajinan tangan di kota-kota besar. Namun, tantangan utama adalah biaya sewa dan modal awal yang tinggi, serta fluktuasi permintaan yang tajam di luar musim liburan. Lim sendiri mengakui bahwa wirausaha di Singapura penuh risiko, tetapi ia berhasil menemukan ceruk pasar yang tepat.
Ke depan, Scuro berencana mengembangkan cat fluoresen non-beracun sendiri untuk membangun merek dan mengendalikan biaya. Lim juga menargetkan ekspansi ke Kuala Lumpur tahun depan. "Saya percaya Scuro bisa menjadi salah satu perusahaan seni pengalaman terkemuka di dunia," ujarnya penuh optimisme. Meski begitu, ia tidak menyarankan orang lain untuk meniru jalannya yang putus sekolah. "Jika ingin berbisnis, lakukan sambil kuliah, jangan langsung all-in," pesannya. Pertanyaannya, apakah model bisnis ini akan berkelanjutan di tengah persaingan yang semakin ketat? Atau justru menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berani mengambil jalan berbeda?



