Empat Penguin Humboldt di Kebun Binatang Jepang Tewas Akibat Malaria Unggas
Baca dalam 60 detik
- Investigasi Universitas Iwate mengonfirmasi penyebab kematian empat penguin Humboldt di Kebun Binatang Yagiyama, Sendai, adalah malaria unggas yang ditularkan nyamuk.
- Kematian terjadi dalam rentang 10 hari tanpa gejala sebelumnya, menunjukkan penyakit ini dapat berkembang sangat cepat dan mematikan.
- Kebun binatang berencana merombak kandang untuk mencegah genangan air tempat nyamuk berkembang biak, sementara belum ada rencana mengganti penguin baru.

Empat penguin Humboldt yang dipelihara di Kebun Binatang Yagiyama, Sendai, Jepang, dinyatakan tewas akibat malaria unggas, demikian hasil investigasi yang dirilis Jumat lalu. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini tidak menular ke manusia, namun dapat berakibat fatal bagi burung, terutama dalam hitungan jam setelah gejala muncul.
Kematian keempat penguin tersebut terjadi secara beruntun pada 9โ19 Juli lalu, dimulai dari pejantan bernama Aramasa. Yang mengejutkan, tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan tanda-tanda sakit hingga sehari sebelum mati. Hal ini menggarisbawahi betapa cepatnya penyakit ini berkembang, dari tanpa gejala hingga kematian dalam waktu singkat.
Universitas Iwate ditugaskan untuk menyelidiki penyebab kematian tersebut. Hasilnya mengonfirmasi adanya infeksi malaria unggas, yang dibawa oleh nyamuk. Meski demikian, pihak kebun binatang belum memiliki rencana konkret untuk mendatangkan penguin baru dalam waktu dekat. Fokus utama mereka saat ini adalah mencegah terulangnya kejadian serupa dengan merombak desain kandang agar tidak ada genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Kejadian ini menjadi pengingat akan kerentanan satwa di penangkaran terhadap penyakit yang ditularkan vektor, terutama di tengah perubahan iklim yang memperluas habitat nyamuk. Di Indonesia, di mana malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, kasus ini relevan sebagai peringatan akan pentingnya pengelolaan lingkungan di kebun binatang dan area konservasi.
Menurut para ahli, malaria unggas berbeda dengan malaria pada manusia. Parasitnya berbeda dan tidak menular antarmanusia. Namun, bagi burung yang tidak memiliki kekebalan, penyakit ini bisa sangat mematikan. Kasus di Sendai ini menunjukkan bahwa bahkan penguin Humboldt yang dikenal lebih tahan terhadap suhu hangat pun tidak kebal terhadap ancaman ini.
Penguin Humboldt sendiri merupakan spesies yang umum ditemukan di pesisir Peru dan Chile. Mereka sering dipelihara di kebun binatang di Jepang karena adaptasinya terhadap iklim yang lebih hangat dibandingkan penguin dari daerah dingin seperti Antartika. Namun, adaptasi tersebut tidak serta-merta melindungi mereka dari penyakit yang dibawa nyamuk.
Ke depannya, kebun binatang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan nyamuk. Langkah-langkah pencegahan seperti pengelolaan lingkungan, pemantauan kesehatan rutin, dan vaksinasi jika tersedia, menjadi krusial. Pertanyaannya, apakah kebun binatang di Indonesia sudah siap menghadapi ancaman serupa?



