Usulan Skrining Narkoba Wajib untuk Seluruh Pilot di Malaysia Menguat
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Pilot Malaysia mendesak perluasan tes narkoba dan alkohol ke semua maskapai, tidak hanya Malaysia Airlines.
- Langkah ini menyusul penangkapan pilot Malaysia Airlines di Jakarta dan temuan narkoba di bandara Kota Kinabalu.
- Program skrining tahap pertama ditargetkan rampung 15 Agustus, dengan perluasan ke kru kabin menyusul.

Asosiasi Pilot Malaysia (MPA) mendesak agar kebijakan skrining narkoba wajib yang baru diterapkan Malaysia Airlines diperluas ke seluruh maskapai di negeri itu. Desakan ini muncul setelah seorang pilot Malaysia Airlines ditangkap di Jakarta dengan dugaan kepemilikan narkoba, memicu kekhawatiran serius tentang pengawasan awak pesawat di kawasan Asia Tenggara.
Presiden MPA, Kapten Ab Manan Mansor, menilai pengujian wajib seharusnya sudah lama diberlakukan mengingat tanggung jawab besar yang diemban kru penerbangan. "Menerbangkan pesawat adalah pekerjaan berisiko tinggi. Satu kesalahan bisa berakibat fatal," ujarnya. Ia menekankan bahwa pemeriksaan tidak hanya untuk narkoba, tetapi juga alkohol, mengingat keduanya dapat mengganggu konsentrasi dan refleks pilot.
Menurut Ab Manan, kru kabin juga harus menjalani skrining serupa karena mereka bertindak sebagai petugas keselamatan di dalam pesawat. "Mereka bertanggung jawab atas keselamatan 300 hingga 400 penumpang. Tanpa jumlah kru kabin minimum, pesawat tidak bisa lepas landas," tegasnya. Ia menambahkan bahwa pengujian acak akan membantu meminimalkan risiko dan mencegah insiden serupa terulang.
Kebijakan ini merupakan respons atas penangkapan pilot Malaysia Airlines di Jakarta, yang memicu Malaysian Aviation Group (MAG) untuk memberlakukan skrining narkoba wajib bagi 1.260 pilotnya. MAG menargetkan tahap pertama selesai pada 15 Agustus, dan pilot yang tidak menyelesaikan skrining tidak akan diizinkan mengoperasikan penerbangan sampai dinyatakan bersih. Program ini nantinya akan diperluas ke kru kabin aktif.
Selain narkoba dan alkohol, Ab Manan mengusulkan penilaian keselamatan yang lebih komprehensif, termasuk pemeriksaan kesehatan fisik dan mental sebelum setiap penerbangan. "Mereka yang demam atau tekanan darah tinggi seharusnya tidak diizinkan terbang," katanya. Ia juga menyoroti perlunya dukungan konseling dan kesehatan mental yang lebih baik dari maskapai, mengingat tekanan pekerjaan dan jauh dari keluarga dapat berdampak psikologis pada kru.
Sementara itu, anggota parlemen Putatan, Datuk Shahelmey Yahya, mendesak investigasi menyeluruh terhadap prosedur keamanan di Bandara Internasional Kota Kinabalu. Ini menyusul penangkapan tiga wanita di Jakarta yang diduga mencoba menyelundupkan narkoba setelah tiba dari Kota Kinabalu. "Ketika penumpang memasuki pos pemeriksaan, mereka menjalani pemindaian tubuh dan kadang pemeriksaan fisik. Untuk penerbangan internasional, mereka diperiksa lagi sebelum naik," jelasnya. Kasus ini menimbulkan pertanyaan serius tentang bagaimana para penumpang bisa melewati beberapa lapis keamanan bandara.
Insiden ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat di bandara, terutama di tengah meningkatnya lalu lintas penerbangan di kawasan. Bagi Indonesia, kasus ini juga relevan mengingat bandara Soekarno-Hatta menjadi titik penangkapan, menunjukkan perlunya koordinasi keamanan yang lebih erat antarnegara. Pertanyaannya, apakah langkah Malaysia ini akan diikuti oleh maskapai lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk memperkuat standar keselamatan penerbangan secara menyeluruh?



