FIGC Cari Direktur Teknis Baru: Ranieri dan Buffon Masuk Daftar Usai Maldini Dikabarkan Menolak
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini dilaporkan akan menolak tawaran menjadi direktur teknis Timnas Italia, membuka peluang bagi kandidat lain seperti Claudio Ranieri dan Gianluigi Buffon.
- Presiden FIGC Giovanni Malagรฒ ingin merekrut direktur teknis terlebih dahulu sebelum menentukan pelatih baru, demi menyelaraskan visi pembangunan tim.
- Keputusan ini krusial bagi Italia yang tengah merombak struktur federasi setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022.

Rencana Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk menunjuk seorang direktur teknis guna merombak Tim Nasional (Azzurri) menemui jalan terjal. Paolo Maldini, legenda AC Milan yang menjadi pilihan utama, dikabarkan akan menolak tawaran tersebut. Situasi ini memaksa FIGC untuk melirik kandidat lain, termasuk Claudio Ranieri dan mantan kiper Gianluigi Buffon.
Presiden FIGC Giovanni Malagรฒ, yang baru terpilih, menjadikan restrukturisasi tim nasional sebagai prioritas. Dalam platformnya, ia berencana mengangkat figur direktur teknis yang akan bertanggung jawab memilih pelatih baru. Langkah ini diambil untuk memastikan adanya keselarasan visi antara direktur teknis dan pelatih dalam membangun kembali skuad Italia.
Menurut laporan Sport Mediaset dan Sky Sport Italia, Maldini cenderung menolak posisi tersebut. Meski belum ada pernyataan resmi, sinyal negatif dari mantan bek berusia 54 tahun itu membuat FIGC harus menyiapkan rencana cadangan. Nama Claudio Ranieri muncul sebagai kandidat kuat. Pelatih yang pernah membawa Leicester City juara Premier League itu juga memiliki pengalaman sebagai direktur di Roma.
Opsi lain adalah Gianluigi Buffon, yang baru mengundurkan diri sebagai team manager beberapa bulan lalu setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2022. Buffon sebelumnya lebih berperan sebagai motivator di ruang ganti tanpa kewenangan pengambilan keputusan. Jika kembali, ia akan menduduki posisi yang jauh lebih strategis, termasuk menentukan pelatih baru.
Bagi Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. FIGC menerapkan model yang mirip dengan konsep technical director yang mulai populer di Asia, termasuk di Indonesia. PSSI sendiri tengah mempertimbangkan struktur serupa untuk Timnas Indonesia. Keberhasilan atau kegagalan Italia dalam menerapkan model ini bisa menjadi pelajaran berharga.
Pengamat sepak bola Italia, Gianluca Di Marzio, menilai bahwa Ranieri memiliki keunggulan karena pengalamannya sebagai pelatih dan direktur. Sementara Buffon, meski minim pengalaman manajerial, memiliki aura kepemimpinan yang kuat. โBuffon bisa menjadi figur pemersatu, tapi tugas teknis memilih pelatih mungkin terlalu berat baginya saat ini,โ ujar Di Marzio.
FIGC dijadwalkan mengambil keputusan dalam beberapa pekan ke depan. Pertanyaan besarnya: akankah Ranieri atau Buffon mampu membawa Italia kembali ke jalur kejayaan, atau justru terjebak dalam pusaran politik sepak bola yang rumit?



