Iran Dapat Kelonggaran Visa AS untuk Laga Kunci Piala Dunia, Pelatih Sebut Timnya Paling Tertindas
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah AS mengizinkan timnas Iran masuk dua hari sebelum laga melawan Mesir di Seattle, setelah sebelumnya hanya diberi waktu 24 jam.
- Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengecam pembatasan visa yang dinilai menghambat persiapan dan tidak sesuai semangat Piala Dunia.
- Federasi Sepak Bola Iran berencana mengadukan perlakuan ini ke FIFA, sementara otoritas AS beralasan demi keamanan.

Timnas Iran akhirnya mendapat keringanan dari otoritas imigrasi Amerika Serikat untuk laga pamungkas Grup G Piala Dunia 2026. Dalam pernyataan resmi, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengonfirmasi bahwa skuad asuhan Amir Ghalenoei diizinkan tiba di Seattle dua hari sebelum pertandingan melawan Mesir pada 26 Juni, bukan hanya sehari seperti dua laga sebelumnya. Namun, setelah pertandingan, mereka tetap harus kembali ke markas di Tijuana, Meksiko, pada hari yang sama.
Kebijakan ini merupakan respons atas protes keras Federasi Sepak Bola Iran yang mengancam akan mengadukan perlakuan diskriminatif ke FIFA. Sejak awal turnamen, pemain dan staf Iran hanya mendapat visa transit 24 jam: masuk sehari sebelum laga dan keluar sehari setelahnya. Pelatih Ghalenoei bahkan menyebut timnya sebagai "yang paling tertindas" di Piala Dunia, karena waktu persiapan mereka dipangkas drastis dibanding peserta lain.
"Kami dirampok waktu latihan. Tim lain bisa beradaptasi dengan normal, kami hanya punya kurang dari setengah porsi yang seharusnya," ujar Ghalenoei dalam konferensi pers sebelum laga kedua. Ia menegaskan bahwa pembatasan ini tidak sejalan dengan nilai-nilai sepak bola dan menolak dikaitkan dengan politik. "Kami datang untuk sepak bola, bukan politik," tegasnya.
Kelonggaran ini baru berlaku untuk laga ketiga, sementara dua pertandingan sebelumnya Iran tetap harus mematuhi aturan ketat. Andrew Giuliani, pejabat Gedung Putih yang menangani Piala Dunia, menyebut pembatasan awal masuk akal karena jarak Los Angeles-Tijuana yang dekat. Namun, perjalanan ke Seattle yang memakan waktu hingga tiga jam mendorong pihaknya mempertimbangkan perubahan. Meski begitu, ia menegaskan protokol keamanan secara keseluruhan tidak berubah.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat betapa politik dan keamanan bisa merembet ke gelanggang olahraga. Meski Piala Dunia digadang-gadang sebagai ajang pemersatu, fakta di lapangan menunjukkan bahwa tim dari negara tertentu masih menghadapi hambatan birokrasi yang tidak dialami peserta lain. Pengalaman Iran bisa menjadi preseden bagi tim-tim lain yang memiliki hubungan diplomatik rumit dengan negara tuan rumah di masa depan.
Federasi Sepak Bola Iran, dalam pernyataannya kepada BBC, menilai pembatasan tersebut bertentangan dengan prinsip kesetaraan kondisi bagi semua tim. Mereka khawatir hal ini dapat mengganggu persiapan dan performa di lapangan. Ghalenoei pun berharap FIFA bisa menjamin perlakuan yang sama untuk semua peserta, tanpa terkecuali.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah FIFA turun tangan untuk memastikan tidak ada lagi tim yang mengalami nasib serupa di edisi-edisi mendatang? Atau justru setiap tuan rumah akan memiliki kebijakan visa yang berbeda-beda, tergantung pada hubungan bilateralnya dengan negara peserta? Yang jelas, Piala Dunia 2026 yang digelar di tiga negara—AS, Meksiko, dan Kanada—berpotensi menghadirkan kompleksitas imigrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.



