Stafford Rasakan Atmosfer Piala Dunia di Stadion Kandang: 'Penonton Internasional Luar Biasa'
Baca dalam 60 detik
- Matthew Stafford, quarterback juara Super Bowl, menghadiri laga Piala Dunia 2026 perdana di stadion LA Rams.
- Ia membandingkan sorakan penonton sepak bola yang lebih konstan dengan NFL, serta menyaksikan kemenangan dramatis Turki atas AS.
- Stafford optimistis antusiasme warga AS terhadap timnas bisa mendorong popularitas sepak bola di negara itu.

Matthew Stafford, quarterback Los Angeles Rams yang pernah membawa timnya juara Super Bowl, untuk pertama kalinya merasakan langsung atmosfer pertandingan Piala Dunia FIFA di stadion yang biasa ia huni sebagai kandang. Dalam wawancara eksklusif dengan FIFA, Stafford mengaku terkesima dengan energi suporter internasional yang memadati venue tersebut.
Stafford hadir menyaksikan laga Grup C antara Turki dan Amerika Serikat yang berakhir dramatis 3-2 untuk kemenangan Turki berkat gol di menit akhir. Bagi Stafford, pengalaman ini sangat berbeda dengan pertandingan NFL yang biasa ia jalani. "Energinya luar biasa. Melihat penonton dari berbagai negara, mendengar bahasa asing, itu sangat menyenangkan. Anak-anak perempuan saya ikut, jadi momen ini terasa istimewa," ujarnya.
Ia juga menyoroti perbedaan karakter dukungan penonton. "Sorakan di sepak bola lebih terus-menerus dibandingkan dengan olahraga kami. Tapi ini keren," tambahnya. Stafford bahkan berkesempatan memberikan penghargaan Pemain Terbaik kepada bintang Turki, Arda Guler, selepas pertandingan.
Stafford mengaku senang melihat bagaimana Piala Dunia mampu menyedot perhatian publik Los Angeles dan Amerika Serikat secara umum. Ia menilai kesuksesan awal timnas AS menjadi katalis positif. "Orang-orang di Amerika mulai mendukung timnas setelah start bagus mereka. Tapi yang lebih seru adalah menyambut orang dari seluruh dunia untuk melihat budaya kami. Semoga mereka menikmati," katanya.
Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pelajaran berharga. Antusiasme publik AS terhadap Piala Dunia yang digelar di kandang sendiri menunjukkan bagaimana even global bisa mengubah persepsi terhadap sepak bola di negara yang sebelumnya didominasi olahraga lain. Indonesia, yang tengah giat mengembangkan sepak bola, bisa mencontoh strategi promosi dan keterlibatan tokoh olahraga lintas cabang untuk meningkatkan popularitas sepak bola nasional.
Ke depan, Stafford berharap Piala Dunia 2026 bisa meninggalkan warisan positif bagi sepak bola Amerika. Pertanyaannya, apakah momentum ini akan bertahan lama atau hanya sekadar euforia sesaat? Yang jelas, kehadiran figur sebesar Stafford di tribun stadion menjadi bukti bahwa sepak bola mulai merasuk ke dalam budaya olahraga Amerika.



