Michele Kang Caplok 88% Saham Induk Olympique Lyonnais: Restrukturisasi Utang Rp1,3 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Michele Kang, pengusaha olahraga asal AS, menawar 30 juta dolar AS untuk menguasai 88% saham Eagle Football Group (EFG), induk klub sepak bola Prancis Olympique Lyonnais.
- Tawaran itu hanya sebagian kecil dari nilai pasar EFG yang terlilit utang 616,3 juta euro per Desember 2024, dan disertai pendanaan 71 juta euro untuk restrukturisasi.
- Kesepakatan ini berpotensi mengubah struktur kepemilikan klub besar Eropa dan membuka peluang bagi investor Asia, termasuk Indonesia, untuk masuk ke ekosistem sepak bola global.

Pengusaha olahraga asal Amerika Serikat, Michele Kang, mengambil langkah berani dengan menawarkan 30 juta dolar AS untuk mengakuisisi 88 persen saham Eagle Football Group (EFG), perusahaan induk klub sepak bola Prancis Olympique Lyonnais. Langkah ini dilakukan di tengah tekanan finansial yang melilit grup tersebut, dengan total utang mencapai 616,3 juta euro pada akhir Desember 2024.
Dalam proposal yang diajukan, Kang tidak hanya membeli saham dengan harga jauh di bawah nilai pasar, tetapi juga menyertakan pendanaan sebesar 71 juta euro (sekitar 81 juta dolar AS) yang dialokasikan khusus untuk merestrukturisasi utang EFG. Sebagai informasi, Kang saat ini sudah menjabat sebagai ketua dan CEO EFG, serta memiliki tim wanita Olympique Lyonnais yang telah sukses di kancah Eropa.
Langkah Kang ini muncul setelah Olympique Lyonnais sempat dijatuhi sanksi degradasi ke Ligue 2 pada Juni 2025 akibat masalah keuangan. Namun, hukuman tersebut kemudian dibatalkan oleh komite banding dari badan pengawas keuangan sepak bola Prancis. Keputusan itu memberi sedikit ruang bagi klub untuk bernapas, namun fundamental finansial yang rapuh masih menjadi ancaman serius.
Dewan direksi EFG menyatakan akan memberikan opini beralasan atas penawaran tender tersebut pada waktunya. Sementara itu, EFG juga mengumumkan rencana perubahan nama perusahaan menjadi "Olympique Lyonnais Groupe S.A." pada rapat umum pemegang saham mendatang. Langkah ini menandai upaya untuk memfokuskan kembali identitas perusahaan pada aset utamanya, yaitu klub sepak bola legendaris Prancis.
Bagi pembaca di Indonesia, akuisisi ini memiliki implikasi menarik. Pertama, ini menunjukkan bahwa klub-klub besar Eropa semakin terbuka terhadap investor asing, termasuk dari Asia. Kedua, dengan masuknya Kang yang memiliki rekam jejak di sepak bola wanita, potensi pengembangan talenta dan kerja sama dengan klub-klub Asia, termasuk Indonesia, bisa meningkat. Namun, investor Indonesia yang ingin mengikuti jejak Kang perlu mencermati risiko utang besar dan regulasi keuangan UEFA yang ketat.
Menurut analis olahraga, langkah Kang adalah strategi jangka panjang untuk mengkonsolidasikan kendali atas EFG dengan biaya murah, sambil menyuntikkan dana segar untuk menstabilkan keuangan klub. Jika berhasil, Olympique Lyonnais bisa kembali bersaing di papan atas Ligue 1 dan Eropa. Namun, jika restrukturisasi gagal, klub berjuluk Les Gones itu bisa kembali terancam degradasi atau bahkan kebangkrutan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Kang mengubah utang raksasa menjadi peluang kebangkitan, atau justru sebaliknya? Keputusan dewan direksi EFG dan respons regulator Prancis akan menjadi penentu nasib salah satu klub paling bersejarah di Prancis.



