Piala Dunia 2026: Lebih dari 300 Drone Disita di Sekitar Stadion AS
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Amerika Serikat menyita lebih dari 300 drone ilegal di area terlarang sekitar stadion dan zona penggemar Piala Dunia 2026.
- Langkah ini bagian dari pengamanan maksimal untuk mencegah ancaman teror dan gangguan keamanan, dengan denda hingga Rp1,6 miliar.
- Insiden penyadapan drone juga terjadi di Meksiko, mengingatkan pada skandal mata-mata drone timnas Kanada di Olimpiade 2024.

Otoritas keamanan Amerika Serikat menyita lebih dari 300 drone tanpa izin yang beroperasi di sekitar lokasi penyelenggaraan Piala Dunia 2026 sejak turnamen dimulai awal bulan ini. Langkah tegas ini diambil untuk melindungi puluhan ribu penonton dan pemain dari potensi ancaman di udara.
Pada hari pertandingan, seluruh aktivitas penerbangan, termasuk drone, dilarang dalam radius tiga mil dari stadion dan hingga ketinggian 3.000 kaki. Aturan serupa juga berlaku di zona penggemar. Pelanggar aturan ini menghadapi denda hingga 100.000 dolar AS (sekitar Rp1,6 miliar), penyitaan perangkat, dan tuntutan pidana.
Tim FBI ditempatkan di setiap stadion Piala Dunia untuk mendeteksi dan melumpuhkan drone yang melanggar. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi keamanan yang lebih luas setelah Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif tahun lalu untuk memperkuat pertahanan AS terhadap serangan drone. Seorang juru bicara Transportation Security Administration (TSA) menyebut upaya ini sebagai "langkah pengamanan ruang udara dan mitigasi drone paling komprehensif dalam sejarah AS untuk Piala Dunia FIFA 2026".
Dalam salah satu operasi terbaru di Kansas City, Missouri, FBI bersama lembaga penegak hukum lainnya menyita delapan drone dan pengendalinya karena melanggar pembatasan penerbangan sementara di sekitar Stadion Kansas City dan zona penggemar FIFA. Dua operator drone juga menerima surat pelanggaran dari Federal Air Marshal Service (FAMS).
Insiden serupa juga terjadi di luar AS. Sebelum pertandingan kedua Korea Selatan di Grup A melawan tuan rumah Meksiko, militer Meksiko dilaporkan mencegat dan menjatuhkan drone tak terdaftar yang terbang di atas pusat latihan Korea Selatan di Guadalajara. Kubu Korea Selatan mencurigai adanya upaya spionase. Kejadian ini mengingatkan pada skandal mata-mata drone yang melibatkan tim nasional putri Kanada pada Olimpiade Paris 2024, di mana pelatih kepala Bev Priestman dipecat dan tim dikurangi enam poin.
Bagi Indonesia, yang tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 dan berpotensi mengikuti ajang serupa di masa depan, langkah pengamanan drone di Piala Dunia 2026 menjadi pelajaran berharga. Regulasi ketat dan penegakan hukum yang cepat dapat menjadi referensi untuk mengantisipasi ancaman keamanan di event olahraga berskala internasional. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia mengadopsi teknologi dan prosedur serupa untuk melindungi even olahraga global di masa mendatang?



