Bukan Cuma Manusia: Demam Piala Dunia di Meksiko Juga Menular ke Hewan Peliharaan
Baca dalam 60 detik
- Penjualan jersey palsu untuk hewan peliharaan di Meksiko melonjak, dengan harga hanya 5 dolar AS dibandingkan versi asli 100-150 dolar.
- Fenomena ini mencerminkan kesenjangan ekonomi: upah minimum harian Meksiko setara dengan harga satu jersey replika.
- Adidas merilis koleksi khusus hewan, namun hanya untuk kucing dan anjing, sementara permintaan untuk bebek dan kuda juga tinggi.

Demam Piala Dunia di Meksiko tak hanya melanda manusia. Dari Chihuahua hingga Chow Chow, hamster hingga kuda, bahkan seekor bebek bernama Merlin, warga Meksiko kini mendandani hewan kesayangan mereka dengan kostum tim nasional "El Tri". Fenomena ini menjadi cermin unik dari antusiasme sekaligus kesenjangan ekonomi yang melatari perhelatan sepak bola terbesar di dunia.
Di pasar-pasar tradisional Kota Meksiko, lapak-lapak kaki lima menjual jersey sepak bola untuk hewan dengan merek tiruan seperti "Adidog". Harganya hanya sekitar 5 dolar AS, jauh di bawah versi resmi Adidas yang dibanderol 100 dolar untuk replika dan 150 dolar untuk versi asli. "Tren paling populer saat ini adalah seluruh keluarga berpakaian seragam," ujar Diana Montes, seorang pedagang aksesori hewan di Pasar La Merced, kepada Reuters.
Kisah Merlin si bebek menjadi pemicu utama. Bebek tersebut sempat diterima Presiden Meksiko dan viral di media sosial, menginspirasi pemilik hewan lain seperti Aida Cruz yang membelikan jersey untuk anjing Schnauzer miniaturnya, Cookie. "Dia bagian dari keluarga," kata Cruz sambil menunjukkan foto Cookie yang ditinggal di rumah karena keramaian pasar.
Namun di balik gemerlap kostum hewan, tersimpan realitas pahit. Upah minimum harian Meksiko hanya sekitar 315 peso (18 dolar AS), artinya satu jersey replika Adidas setara dengan hampir seminggu upah buruh. "Pada hari pertandingan, tidak ada yang memeriksa label," kata seorang pedagang. Banyak warga memilih jersey palsu yang jelas melanggar hak kekayaan intelektual, tetapi terjangkau.
Adidas, yang mengklaim jersey Meksiko sebagai produk terlarisnya secara global, mulai merespons tren ini dengan meluncurkan koleksi khusus hewan. Namun, koleksi tersebut terbatas pada kucing dan anjing; belum ada kostum untuk bebek atau kuda. Perusahaan Jerman itu menegaskan komitmennya memberantas barang palsu. "Kami bekerja sama dengan otoritas terkait untuk melindungi konsumen dari pemalsu," kata juru bicara Adidas dalam surel kepada Reuters.
Fenomena ini mengingatkan pada situasi di Indonesia, di mana demam sepak bola juga kerap mendorong maraknya jersey palsu. Di pasar Tanah Abang atau Pasar Senen, jersey timnas Indonesia atau klub Eropa palsu mudah ditemukan dengan harga seperlima dari versi asli. Meski tidak sampai meluas ke hewan peliharaan, tren "family look" di Indonesia lebih sering terjadi pada manusia, terutama saat momen Piala Dunia atau Piala AFF.
Efrain Miranda, pedagang kaki lima di pusat Kota Meksiko, mengaku dulu bisa menjual hingga 30 jersey hewan per hari. Kini stoknya habis dan ia tak tahu kapan akan mendapat pasokan baru. "Permintaannya sangat besar," katanya. Pertanyaannya, mampukah produsen resmi seperti Adidas menangkap peluang ini tanpa mengorbankan aksesibilitas bagi konsumen kelas bawah? Ataukah jersey palsu akan terus menjadi pilihan utama di tengah kesenjangan ekonomi yang menganga?



