Wall Street Terkoreksi, Ekspektasi Suku Bunga The Fed Kian Menguat
Baca dalam 60 detik
- Saham teknologi global anjlok dipicu spekulasi kenaikan suku bunga The Fed lebih agresif, dengan Nasdaq futures turun lebih dari 2,5%.
- Kekhawatiran atas belanja infrastruktur AI dan rencana rights issue raksasa teknologi memperburuk sentimen pasar.
- Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam setahun, sementara yen Jepang mendekati posisi terlemah dalam 40 tahun.

Pasar saham global mengalami tekanan jual yang signifikan pada Selasa (23/6), dengan indeks teknologi menjadi yang paling terpukul seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mengambil langkah lebih agresif dalam mengendalikan inflasi. Kondisi ini mendorong investor beralih ke aset aman seperti obligasi dan dolar AS.
Nasdaq futures merosot lebih dari 2,5%, mengindikasikan kelanjutan pelemahan setelah indeks tersebut turun 1,3% pada perdagangan sebelumnya. Saham SpaceX, yang sehari sebelumnya ambles hampir 17%, masih berjuang untuk bangkit di perdagangan pra-pasar. Raksasa teknologi seperti Alphabet, Meta Platforms, dan Microsoft juga ikut tertekan. S&P 500 e-mini futures tercatat turun 1,2%.
Di Eropa, indeks STOXX 600 melemah 0,8%, terbebani oleh saham semikonduktor dan produsen peralatan chip yang mengikuti penurunan di Jepang dan Korea Selatan. Indeks KOSPI Seoul bahkan anjlok 10% dalam aksi jual satu hari terbesar sejak Maret. "Pertanyaan kembali muncul mengenai belanja infrastruktur AI, terutama karena beberapa perusahaan raksasa berencana menjual ekuitas untuk mendanai ekspansi," ujar David Morrison, analis pasar senior Trade Nation.
Di pasar komoditas, minyak mentah Brent masih bertahan di bawah US$80 per barel meskipun jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz terus bertambah. Harga minyak fisik hampir kembali ke level sebelum konflik. Penurunan harga minyak biasanya menjadi katalis positif bagi saham, namun kali ini investor justru mencermati dampak lonjakan energi terhadap kebijakan bank sentral. Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, dipandang akan mengambil sikap yang lebih keras terhadap inflasi.
Imbal hasil Treasury 2 tahun, yang paling sensitif terhadap ekspektasi inflasi dan suku bunga, melonjak ke level tertinggi dalam 16 bulan. Sementara imbal hasil 10 tahun juga naik signifikan. Pada Selasa, imbal hasil 2 tahun dan 10 tahun masing-masing turun tipis 3 basis poin ke 4,20% dan 4,49%. "Penyesuaian imbal hasil AS yang lebih tinggi menciptakan latar belakang yang lebih menantang bagi aset berisiko dalam jangka pendek setelah kenaikan kuat beberapa bulan terakhir," kata Lee Hardman, ahli strategi mata uang MUFG.
Pasar uang menunjukkan investor hampir sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga pada September. Dolar AS pun berada di level tertinggi dalam setahun terhadap sekeranjang mata uang utama. Penguatan dolar ini terutama menekan yen Jepang, yang pada Selasa diperdagangkan flat di 161,58 per dolar, mendekati posisi terlemah dalam 40 tahun. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengungkapkan telah mengadakan pertemuan daring dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk membahas pasar keuangan global, yang menurut analis meningkatkan risiko intervensi resmi Tokyo untuk menopang yen.
Euro juga tertekan, jatuh di bawah US$1,14 ke level terendah dalam setahun karena investor mengurangi taruhan kenaikan suku bunga ECB lebih lanjut. Sementara itu, poundsterling melemah 0,3% ke US$1,3216 setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya, membuka jalan bagi transisi kekuasaan yang diperkirakan akan berjalan tertib kepada Andy Burnham.
Emas tertekan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga AS, turun 1,7% ke US$4.120 per ons. Di pasar kripto, bitcoin melemah 3% ke US$62.500, sementara ether turun 4% ke US$1.660. Bagi investor Indonesia, penguatan dolar AS dan pelemahan yen patut dicermati karena berpotensi mempengaruhi nilai tukar rupiah serta arus modal asing di pasar keuangan domestik. Pertanyaan kini mengemuka: apakah koreksi ini merupakan peluang beli atau awal dari tren bearish yang lebih dalam?



